Senin, 19 November 2012

PENDIDIK(an) Dan ORANG TUA (rumah)


Pendidik (an) Dan Orang tua (rumah)

Stakeholders pendidikan adalah pemerintah, sekolah (pendidik dan tenaga pendidik), dan orang tua. Ketiga komponen tersebut saling bergantung dan terkait dan harus saling memberikan support. Jika salah satu komponen tersebut tidak memberikan support maka proses pendidikanpun akan terganggu dan tidak berjalan sebagaimana tujuan pendidikan yang ingin di capai. Keberhasilan pendidikan bergantung dari hubungan yang selaras dan saling komunikasi antar ketiga komponen.
Pada dewasa ini proses pendidikan berlangsung dengan baik, pihak pemerintah dengan segala upaya melakukan berbagai perbaikan pendidikan dan peningkatan kualitas pendidikan baik dari segi manajemen pendidikan, sarana maupun dari segi pendidik dan tenaga kependidikannya. Dari segi manajemen pendidikan telah diupayakannya manajemen berbasis sekolah, dimana sekolah diberikan ruang gerak untuk melakukan kreatifitas dan inovasi pendidikan dalam rangka untuk mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan karakteristik daerahnya. Dari segi sarana telah dilakukannya perbaikan gedung dan media pembelajaran yang memadai sehingga diharapakan proses pembelajaran dapat dilakukan secara efektif dan berkualitas. Sedangkan peningkatan pendidik dan tenaga pendidik telah dilakukannya berbagai pelatihan, workshop untuk peningkatan kompetensi pendidik serta pada akhir –akhir ini sesuai dengan amanat UU No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen dilakukannya sertifikasi untuk mengukur profesionalisme guru di samping untuk peningkatan kesejahteraan guru.
Secara makro bahwa pendidikan saat ini tidak mengalami masalah mengenai penurunan kualitas, namun secara mikro yang berorientasi pada peserta didik maka akan memunculkan masalah bahwasannya pada dewasa ini justru terjadi penurunan tentang perilaku , sikap, dan tanggung jawab peserta didik sebagai seorang pelajar dalam proses pembelajaran.
Saat ini hubungan pihak pemerintah dengan sekolah telah terbentuk hubungan yang selaras untuk melakukan berbagai upaya dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan, bagaimanakah hubungan sekolah dengan orang tua peserta didik. Pada hal orang tua adalah salah satu komponen stakeholders pendidikan yang merupakan komponen yang ikut andil dan menentukan tentang keberhasilan pendidikan. Jika antara sekolah dan orang tua belum terjadi adanya hubungan yang selaras dalam hal peningkatan kualitas pendidikan, maka proses pendidikan di sekolahpun akan mengalami berbagai kendala. Belum adanya hubungan dan komunikasi yang selaras antara sekolah dengan orang tua dapat kita lihat dari hasil proses pendidikan dari persepektif sikap, perilaku, dan tanggungjawab anak sebagai seorang peserta didik. Terbukti hingga sekarang kita masih banyak menemukan bagaimana sikap dan perilaku seorang peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat. Banyak di antara mereka melakukan sikap dan perilaku yang kurang terpuji dan bahkan cenderung melanggar norma baik agama maupun pemerintah. Sedangkan dari tanggung jawab mereka sebagai pelajar tampak sekali terjadinya penurunan tanggung jawab seorang pelajar. Hal ini dapat kita temui banyak di antara mereka melepaskan tanggung jawabnya sebagai pelajar yang harus belajar dan menuntut ilmu dengan sebaik-baiknya. Semua itu dapat dibenahi dan dilakukan perbaikan apabila sekolah bersama dengan orang tua murid menciptakan hubungan dan komunikasi yang selaras untuk bersama-sama mendidik dan mengarahkan anak untuk berkembang sesuai dengan potensinya.
Dari uarian di atas maka akan timbul permasalahan, bagaimanakah menciptakan hubungan yang intens dan selaras antara sekolah dan orang tua peserta didik, bagaimakah peran orang tua terhadap kegiatan belajar peserta didik selama di rumah.

Pendidikan adalah suatu proses yang dilakukan secara terus menerus untuk membentuk akhlak dan kepribadian agar menjadi manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, cerdas, bermartabat, serta berwawasan luas.
Menurut teori konvergensi hasil pendidikan anak dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu pembawaan dan lingkungan. Diakui bahwa anak lahir telah memiliki potensi yang berupa pembawaan. Namun pembawaan yang sifatnya potensial itu harus dikembangkan melalui pengaruh lingkungan, termasuk lingkungan pendidikan, oleh sebab itu tugas pendidik adalah menghantarkan perkembangan semaksimal mungkin potensi anak sehingga kelak menjadi orang yang berguna bagi diri, keluarga, masyarakat, nusa, dan bangsanya. Sedangkan menurut salah seorang pakar pendidikan Darmawan Iskandar,  pendidikan merupakan proses yang terjadi secara terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada Tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.
Pendidikan adalah proses yang secara terus menerus dan pendidikan dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Lingkungan sekolah dan lingkungan rumah merupakan lingkungan yang mempunyai andil besar dalam proses pendidikan anak. Sehingga perlu menciptakan suasana yang serasi dan selaras antara sekolah dan rumah. Disinilah peran orang tua selama di rumah yang sangat mendukung keberhasilan proses pendidikan. Di dalam pendidikan berlangsung proses pembelajaran, sedangkan proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh faktor pendidiknya (guru) di samping faktor orang tua selama peserta didik tersebut di rumah. Tugas guru adalah mengajarkan cara belajar kepada peserta didik di samping itu sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar peserta didik. Sebagaimana Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen di dalam  Pasal 1,Ayat 1 “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah’. Sedangkan orang tua berperan untuk mendampingi, mengarahkan, dan mengawasi anaknya dalam belajar di rumah agar yang di dapat di sekolah dapat dilanjutkan di rumah dan tidak bertentangan dengan pembiasaan di sekolah.
Definisi yang lebih lengkap diungkapkan oleh Bernays seperti dikutip oleh Suriansyah (2000), yang menyatakan bahwa hubungan sekolah dengan masyarakat adalah:
Dari uraian di atas maka sangat dibutuhkan hubungan sekolah dengan orang tua murid agar proses pendidikan dan pembiasaan di sekolah dapat dilanjutkan di rumah dengan pendampingan orang tua dalam istilahnya pembiasaan yang diterapkan di sekolah tidak bertentangan dengan pembiasaan yang di rumah. Jika hal ini dapat dilakukan maka proses pendidikan yang secara terus menerus dapat tercapai. Sehingga pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya agar dapat terwujud generasi yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab akan terwujud. Hubungan yang bagaimanakah yang dapat dilakukan ?
Beberapa contoh bentuk hubungan yang dapat dilakukan oleh orang tua murid dengan sekolah :
2.        Mendorong anak dalam belajar secara teratur di rumah, termasuk dalam hal ini peranan orang tua membimbing dan memberikan pengawasan terhadap kegiatan belajar anak di rumah.
3.        Mendorong anak dalam menyusun waktu belajar serta menetapkan prioritas kegiatan di rumah, pengawasan pelaksanaan jadwal belajar dirumah menjadi sangat penting bagi orang tua murid. Hal ini harus mendapat perhatian bagi sekolah untuk diberikan informasi yang jelas dan lengkap tentang apa dan bagaimana mereka bisa melakukan kegiatan tersebut.
4.        Membimbing dan mengarahkan anak dalam penggunaan waktu belajar, bermain dan istirahat.
5.        Membimbing dan mengarahkan anak melakukan suatu kegiatan yang menunjang pelajaran di sekolah. Orang tua diharapkan berperan aktif dalam membimbing anak dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang menunjang pembentukan dirinya kearah kedewasaan.                   
6.        Dalam waktu tertentu meminta informasi atau konsultasi dengan pihak sekolah mengenai perkembangan dan proses belajar putra-putrinya.
7.        Menyampaikan informasi kepada pihak sekolah mengenai perkembangan pribadi dan proses belajar di rumah secara fakta dan tidak ditutup-tutupi.
9.        Menyediakan fasilitas belajar di rumah dan membimbing putra-putrinya agar belajar dengan penuh motivasi dan perhatian.
12.    Melakukan pembiasaan di rumah seperti yang direkomendasikan oleh pihak sekolah demi perkembangan pribadi putra-putrinya.
13.    Tidak membiasakan putra-putrinya melakukan tindakan, sikap atau perilaku yang bertentangan dengan di sekolah.
a.         Modelling of behaviors (pemodelan perilaku), yaitu gaya dan cara orang tua berperilaku dihadapan anak-anak, dalam pergaulan sehari-hari atau dalam setiap kesempatan akan menjadi sumber imitasi bagi anak-anaknya. Oleh sebab itu orang tua ataupun lingkungan keluarga dan masyarakat yang menunjukkan perilaku negatif akan sangat mempengaruhi perilaku anak di rumah, di sekolah, maupun dimasyarakat. Dalam kaitan dengan hal ini diperlukan kesamaan nilai dan norma yang berlaku di sekolah dengan yang berlaku di keluarga dan masyarakat.
b.        Giving rewards and punishments (memberikan ganjaran dan hukuman). Cara orang tua memberikan ganjaran dan hukuman juga mempengaruhi terhadap perilaku anak.
c.         Direct instruction (perintah langsung), pemberian perintah secara langsung atau tidak langsung memberi pengaruh terhadap perilaku, seperti ungkapan orang tua “jangan malas belajar kalau ingin dapat hadiah” pernyataan ini sebenarnya perintah langsung yang lebih bijaksana, sehingga dapat menumbuhkan motivasi anak untuk lebih giat belajar. Banyak masyarakat tidak mengerti bagaimana penghargaan dan hukuman yang akan memberikan dampak bagi proses pendidikan, Akibatnya setelah terjadi penyimpangan perilaku akibat pemberian yang berlebihan tersebut baru mereka sadar.
d.        Stating rules (menyatakan aturan-aturan), menyatakan dan menjelaskan aturan-aturan oleh orang tua secara berulang kali akan memberikan peringatan bagi anak tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindarkan oleh anak.
e.         Reasoning (nalar). Pada saat-saat menjengkelkan, orang tua bisa mempertanyakan kapasitas anak untuk bernalar, dan cara itu digunakan orang tua untuk mempengaruhi anaknya, misalnya orang tua bisa mengingatkan anaknya tentang kesenjangan perilaku dengan nilai-nilai yang dianut melalui pernyataan-pernyataan. Contohnya “sekarang rangking kamu jelek, karena kamu malas belajar, bukan karena kamu bodoh! “.
f.         Providing materials and settings. Orang tua perlu menyediakan berbagai fasilitas belajar yang diperlukan oleh anak-anaknya seperti buku-buku dan lain sebagainya. Tetapi buku apa dan fasilitas apa yang sesuai dengan kebutuhan sekolah, banyak orang tua tidak memahaminya.
Dengan hubungan yang harmonis tersebut ada beberapa manfaat pelaksanaan hubungan sekolah dengan orang tua peserta didik yaitu:

a.              Lebih instropeksi diri lembaga
b.         Memudahkan sekolah untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas tenaga kependidikannya.
c.         Lebih memperbesar kepercayaan masyarakat terhadap sekolah, jika kulaitas dan dukungan masyarakat semakin besar.
Bagi Orang tua peserta didik
1.         Orang tua semakin memahami tentang kependidikan dan dapat mengontrol perkembangan pendidikan putra-putrinya.
Dari berbagai uraian di atas dapat diinterpretasikan, bahwa hubungan sekolah dengan orang tua peserta didik, bertujuan untuk :
a.         Meningkatkan kualitas lembaga sekolah.
b.         Meningkatkan kualitas proses pembelajaran, baik dari proses hingga out putnya.
c.         Meningkatkan kualitas hasil belajar, baik dari segi akademik, efektif/perilaku/karakter maupun segi lifeskill peserta didik.
d.        Meningkatkan kualitas tenaga kependidikannya.






 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar