Selasa, 23 Oktober 2018

TUMBUHKAN RASA EMPATI



TUMBUHKAN RASA EMPATI
(Mengasah Kecerdasan Emosional)
Heri Murtomo (Pendidik di Surabaya)

Akhir-akhir ini sering kita temui, tindakan anarkis di lingkungan masyarakat kita, perilaku mudah menyalahkan oranga lain, tidak dapat menerima pendapat orang lain, sering bersikap bohong kepada publik, dan bahkan melakukan tindakan agresif-anarkis sebagai bentuk reaktif terhadap protes. Perilaku-perilaku tersebut yang banyak kita temui sekarang ini justru menjangkit para orang dewasa yang harusnya menjadi teladan bagi generasi bangsa. Secara tidak langsung perilaku-perilaku tersebut akan di lihat dan di contoh oleh generasi bangsa ini. Jika hal ini dibiarkan bagaikan bola liar tanpa pencegahan dini maka generasi bangsa yang akan datang justru akan menjadi generasi yang lebih reaktif-anarkis.
Bentuk preventif yang dapat kita lakukan adalah dengan membangun kecerdasan emosional anak dalam proses pendidikan sehingga kelak bangsa ini akan menjadi bangsa yang memiliki sopan-santun dan adab dalam kehidupan bemasyarakat sebagaimana bangsa ini di kenal sejak dulu kala dengan sikapnya itu.

Setiap manusia dilahirkan dengan potensinya masing-masing, potensi yang dimiliki manusia tak terbatas dengan berbagai macam kecerdasan yang dimilikinya. Ada beberapa kecerdasaan yang dimiliki oleh setiap manusia menurut beberapa ahli. Salah satu kecerdasan yang memiliki hubungan erat dengan kecerdasan intektual anak adalah kecerdasan emosional. Anak dengan kecerdasan intelektual tinggi tidak menutup kemungkinan dalam menjalani kehidupannya kelak akan terperosok ke dalam kehinaan dan kebrutalan yang keluar norma agama maupun norma bangsa. Bahkan dalam berkehidupan bermasyarakat sulit untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Keberhasilan seseorang dalam menjalani hidup bukan hanya ditentukan oleh intelligence quetion (IQ), namun kecerdasan emosi juga memiliki peranan yang sangat penting (Dr. Antonio Damasio dalam buku Agus Efendi dengan judul Revolusi kecerdasan Abad 21, 2005). Kecerdasan emosional memiliki peran besar dan penting dalam kehidupan anak kelak, pendapat Daniel Golemen dalam Agus Efendi dalam buku Revolusi Kecerdasan abad 21 (2005), kecerdasan akademis sedikit saja kaitannya dengan kehidupan emosional. Orang yang paling cerdas di antara kita dapat terperososk ke dalam nafsu tak terkendali dan impuls meledak-ledak.

Kecerdasan emosional memberi kesadaran akan perasaan diri-sendiri dan perasaan orang lain. Dengan memahami perasaan orang lain maka seseorang akan mudah  beradaptasi di lingkungannya. Anak dengan kecerdasan emosonal tinggi akan mudah beradaptasi dan meraih kesuksesan karena rasa empati, disiplin dan menghargai orang lain sedangkan sebaliknya bagi anak dengan kecerdasan emosonal rendah.
Ariatoteles yang dikuitp Daniel Golemen(1994): siapapun bisa marah-itu mudah, tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik bukanlah hal mudah.
Kecerdasan emosinal memiliki peran yang sangat penting dalam proses kehidupan anak kelak. Anak yang memiliki kecerdasan emosional baik maka akan mampu mempertahankan bahkan mencapai sukses dalam hidupnya sedangkan bagi anak dengan kecerdasan emosional rendah akan sebaliknya. Dari hal ini maka sangat penting kiranya anak sejak usia TK sampa dengan baliqh dilatihkan dan ditumbuhkan kecerdasan emosionalnya.

Pembentukan kecerdasan emosional di dalam buku Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl karangan Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid (2009) dikatakan bahwa pembinaan paling ideal untuk pembinaan kecerdasan emosional adalah masa taman kanak-kanak hingga usia baliqh. Dalam pembinaan kecerdasan emosional dapat dilakukan antara lain pembinaan aqidah, ibadah , kemasyarakatan, dan adabnya. Pembinaan kemasyarakatan dilakukan dengan tujuan agar dia bisa beradaptasi dengan lingkungan kemasyarakatannya, dengan orang-orang yang dewasa atau dengan teman sebayanya, dan juga agar mempunyai peran positif. Demikian juga agar dia terhindar dari sifat memikirkan diri sendiri dan rasa malu yang tidak pada tempatnya, dia akan menerima dan memberi dengan tata krama, dan juga melakukan interaksi sosial.
Dari hal di atas bahwa kecerdasan emosional memiliki Hakekat yang sangat signifikan dalam proses menghadapi kehidupan anak di masa yang akan datang. Dengan kecerdasan emosional yang baik maka anak akan menjadi pribadi yang baik yang dengan mudah dapat memahami orang lain, begitu sebaliknya.

Kecerdasan emosional adalah jenis kecerdasan yang mencakup pengendalian diri, semangtat, dan ketekunan, dan kemampuan untuk memotivasi diri sendiri. Keterampilan-keetrampilan itu bisa dipraktikkan. Perlunya kecerdasan emosional bertumpu pada hubungan antara perasaan, watak, dan naluri moral.
Dalam konteks hubungan emosi dan motivasi, tindakan memotivasi harus dilakukan dengan menyentuh emosi. Karena emosi yang negatif akan melahirkan tindakan negatif pula, begitu sebaliknya, Dean R. Spitzer (1995) dalam bukuAgus Efendi (2015). Dalam kecerdasan emosional yang menyangkut kehidupan anak kelak adalah kemampuan memahami diri-sendiri dan memahami orang lain. Daniel Goleman (2002) mengatakan bahwa kecerdasan emosional menjadi lima kemampuan utama, yaitu:
Terdapat empat ranah dalam Kecerdasaan Emosi (Emotional Quotion), yaitu:
1.      Kesadaran Diri, yaitu mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi, yang meliputi: kesadaran emosi, penilaian diri secara teliti dan percaya diri.
2.      Mengelola emosi, yaitu kemampuan menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap tanpa melewati kewajaran, meliputi: kendali diri, dapat dipercaya, kewaspadaan, adaptibilitas, dan inovasi,
3.      Mmeotivasi diri-sendiri, yaitu memiliki kecenderungan emosi yang mendorong pencapaian tujuan, meliputi dorongan berprestasi, komitmen, inisiatif, serta optimisme.
4.      Mengenali emosi orang lain, yaitu memiliki kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain, yang terdiri dari memahami orang lain, orientasi akan pelayanan, dan mampu mengembangkan orang lain, serta mengatasi keberagaman, mampu berkomunikasi dengan baik, merupakan katalisator perubahan, mampu mengelola konflik, mampu berkoolaborasi dan berkooperasi, serta kemampuan bekerja dalam tim.

Aplikasi dalam Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran di kelas merupakan saran yang paling tepat untuk membangun keecrdasan emosional anak. Membangun kecerdasan emosional anak dapat dilakukan dengan memberikan pembiasaan kepada siswa dalam bergaul, beradaptasi, dan menyelesaikan masalah sederhana bersama dengan teman di kelasnya. Dalam proses pembelajaran kecerdasan emosional dapat dikembangkan dengan metode belajar diskusi, problem solving dll. Dengan berbagai metode belajar maka siswa akan dapat memahami temannya sebagai orang lain, menerima pendapat orang lain dan menerima kekurangan orang lain. Disamping itu pembentukan karakter, salah satunya adalah berempati dengan memberikaan sumbangan kepada korban bencan apada saudara kita di Donggala, Palu, dan Sulawesi merupakan pembentukan rasa empati dan salah satu cara meningkatkan kecerdasan meosional.
Secara keseluruhan membangun kecerdasan emosional anak di sekolah dapat juga dilakukan dalam bentuk kegiatan intra kurikuler dan ekstrakuirkuler.

Munculnya Kurikulum 2013 arahnya adalah peningkatan kompetensi yang utuh antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Ukuran keberhasilan peserta didik dapat dilihat dari pertambahan pengetahuannya, peningkatan keterampilannya, dan kemuliaan kepribadiannya. Disinilah peran guru harus menjadi role model (teladan), menjadi pendengar yang baik. Kalau guru mengajar dengan hati, murid akan mendengarkan dengan hati. Guru yang mengajar dengan cinta, murid pasti akan membalasnya dengan cinta. Guru yang pandai menghargai murid, murid pasti menghargai guru. Dalam proses pendidikan sekarang ini diharapkan Indonesia dapat menyiapkan generasi abad 21 yaitu generasi yang memiliki kompetensi :
1.      Religious Literacy, Religious Literacy adalah sikap terbuka untuk mengenal nilai-nilai dalam agama lain. Dengan mengenal agama lain orang bisa sungguh saling mengenal, saling menghormati dan menghargai, saling bergandengan, saling mengembangkan dan memperkaya kehidupan dalam sebuah persaudaraan sejati antar umat beragama. Harmoni dalam kehidupan bermasyarakat akan tercipta jika religious literacy kita terus meningkat.
2.      Memiliki beberapa keterampilan dasar penting : (1) pemikir kritis; (2) seorang penyelesai amsalah; (3) dapat berkomunikasi secara efektif; (4) dapat berkolaborasi secara efektif; (5) dapat mengarahkan diri sendiri; (6) paham akan komunikasi dan media; (7) paham dan sadar akan fenomena global; (8) memikirkaan kepentingan umum; (9) terampil dalam keuangan, ekonomi, dan kewirausahaan (Ken Key, President Partnership for 21st Century Skills).
3.      Memiliki pola pikir terbuka (open mind) dan selalu berorientai mencari jawaban, efektif dalam pembiayaan, selalu menjaga harkat, martabat, dan patuh dengan pranata hukum, dan kebiasaan tepat waktu.
Jika dalam proses pembelajaran dan pendidikan dapat membangun kecerdasan emosional seperti tersebut di atas maka generasi yang akan datang akan menjadi generasi yang handal dan tidak tergilas zaman.

Bagaimana menurut saudara....????
 Image result for gambar anak bemain kelompok



Senin, 26 Maret 2018

MEMBANGUN BUDAYA SANTUN


MEMBANGUN BUDAYA SANTUN
Melalui
PENYAMBUTAN SISWA PAGI HARI

Seorang anak perempuan kelas satu itu menangis di depan gerbang masuk sekolahan setelah turun dari mobil orang tua yang mengantarkannya. Mengetahui salah satu muridnya menangis dengan sigap salah seorang ustadzah yang melakukan penyambutan pagi itu mendekati sambil memeluknya. Anak pinter kok menangis, ayo masuk kelas sudah ditunggu ustadzah. Namun si anak tetap menggelengkan kepalanya sambil menangis terisak-isak. Dibelai kepala si anak oleh ustadzahnya sambil dibisikan kalimat, pingin jadi anak pintar kan, si anakpun menganggukkan kepalanya. Lanjut ustadzah, anak pintar harus rajin sekolah, patuh sama orang tua dan ustadz-ustadzahnya, anak pintar tidak boleh menangis kalau berangkat sekolah, harus semangat. Dengan tatapan matanya kepada ustadzah si anak menganggukan kepala dan akhirya mau masuk gerbang sekolah. Dengan rasa kasih sayang digandenglah tangan si anak sampai masuk ke kelasnya.
Itulah salah satu sekelumit kisah yang terjadi pada penyambutan siswa di pagi itu.

Penyambutan siswa yang dilakukan oleh guru pagi hari di depan gerbang sekolah secara tidak langsung telah memberikan teladan kepada siswanya tentang bagaimana berlaku santun saat bertemu dengan guru atau orang lain dan memberikan dampak posistif luar biasa untuk membangun motivasi anak dalam mengikuti pembelajaran.

Membangun budaya santun bukan hanya sekedar memberikan pengertian kepada siswa tentang sikap santun di dalam proses pembelajaran, namun yang lebih penting dan efektif adalah memberikan keteladanan.

Di era digital yang super canggih ini lambat laun telah melunturkan sikap santun anak-anak kepada orang lain. Anak-anak sudah tidak dapat menghargai orang lain bahkan dengan guru dan orang tuanyapun mereka dapat bersikap keji. Banyak kita temukan di media massa berbagai kasus perilaku anak yang keji baik kepada temannya, gurunya, bahkan orang tuanya. Kasus yang menghebohkan dunia pendidikan yang baru-baru ini terjadi di Sampang, Madura, seorang siswa menghajar gurunya pada saat proses pembelajaran yang pada akhirnya guru tersebut tewas.

Masih banyak kejadian serupa tentang perilaku anak yang sangat keji. Perilaku ini telah merasuki jiwa anak sehingga rasa kasih-sayang kepada sesama dan rasa hormat kepada orang tua dan gurunya telah pudar. Tidak dapat dipungkiri salah satu efek negatif dari era digital yang super canggih ini adalah lunturnya sikap menghargai antar sesama, rasa kasih-sayang, dan rasa hormat kepada yang lebih tua, guru, maupun orang tuanya.

Jika hal ini dibiarkan berlarut maka generasi yang akan datang sudah sangat sulit membedakan antara yang hak dan yang bathil, mereka hanya akan mengetahui bahwa keinginannya harus dipenuhi, tanpa mempedulikan kasih-sayang dan sopan-santun. Dari sinilah pentingnya pembentukan karakter bagi generasi bangsa. Pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam ligkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkutan. Artinya, pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial,budaya masyarakat, dan budaya bangsa (Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Kemendiknas, 2010). Dunia pendidikan sebagai salah satu ujung tombak pembentukan karakter anak diharapkan mampu mengatasi persoalan tersebut.

Bentuk-bentuk kegiatan yang bagaimana yang dapat membangun rasa kasih sayang dan sopan santun anak didik?

Membangun rasa kasih sayang dan sopan santun kepada anak didik tidak dapat dikakukan hanya dengan memberikan ceramah, mengingtakan dengan lisan namun juga harus diberikan keteladanan. Salah satu bentuk keteladanan yang dapat diberikan adalah dengan melakukan penyambutan siswa di pagi hari.

Penyambutan siswa di pagi hari di depan gerbang sekolah yang dilakukan oleh guru 30 menit sebelum bel tanda masuk berbunyi, memiliki dampak positif yang luar  biasa :

·           Siswa
-      Siswa akan merasa nyaman dan tenang memasuki gerbang sekolah ketika melihat penyambutan gurunya yang penuh kasih sayang
-      Siswa merasa diberikan perhatian oleh gurunya
-      Siswa akan merasa adanya kedekatan emosional dengan gurunya
-      Siswa akan merasa bersalah jika bersikap tidak baik
-      Sapaan salam guru kepada siswa memberikan motivasi tersendiri bagi diri anak.
-      Secara berangsur siswa akan malu untuk terlambat datang ke sekolah
-      Siswa telah diberikan keteladanan bersikap sopan santun
-      Siswa telah diberikan keteladanan menghargai orang lain, menghormati guru.

·           Guru
-      Lebih cepat mengetahui kondisi awal sikap atau motivasi anak didiknya
-      Dapat memberikan penanganan lebih awal jika ada siswa yang bad mood atau kurang motivasi.
-      Adanya kedekatan emosional dengan siswanya
-      Memberikan keteladanan kedisiplinan, kasih sayang dan menghormati orang lain kepada anak didiknya.
-      Dapat menumbuhkan semangat belajar anak didiknya
Di atas tersebut mungkin hanyalah sebagian kecil manfaat penyambutan siswa di pagi hari dan masih banyak dampak posistif luar biasa lainnya.

Jika setiap sekolah dapat menerapkan hal tersebut, saya yakin pada masa yang akan datang akan tumbuh generasi bangsa yang penuh kasih sayang, sopan santun , menghargai orang lain dan menghormati yang lebih tua. Perilaku-perilaku keji anak didik akan tereliminasi dnegan sendiri oleh keteladanan sang guru.

Selamat Berjuang Guru Indonesia......keikhlasan hatimulah yang akan membangun generasi masa depan bangsa kita.





Senin, 19 Maret 2018

MENGUAK TABIR POTENSI ANAK USIA SEKOLAH DASAR


MENGUAK TABIR POTENSI
ANAK USIA SEKOLAH DASAR

Anak merupakan putra-putri sang hidup yang rindu pada diri-sendiri, yang jiwanya adalah penghuni rumah masa depan, yang kehidupannya akan terus berlangsung tiada henti sampai segala sesuatunya berakhir (Khalil Gibran dalam Kartini, Kartono, 1990)

Anak dilahirkan dengan potensi dan keunikannya masing-masing. Mereka terlahir sebagai anak yang unik. Setiap anak berbeda dengan lainnya, bahkan anak kembarpun memiliki potensi dan kelemahan yang berbeda.
Sebagai orang tua anak adalah segalanya, merekalah generasi penerus orang tua, anak bagaikan harta berlian yang tak terhingga nilainya. Dari pandangan tersebut, sebagian umum orang tua akhirnya berambisi untuk menjadikan anak mereka harus seperti orang tuanya atau bahkan lebih dari orang tuanya.
Karena ambisi orang tuanya maka tidak sedikit orang tua yang memperlakukan anak sesuai dengan keinginannya dan sangat sedikit sekali orang tua yang dapat memahami potensi yang dimiliki si anak. Padahal anak bukanlah diri orang tuanya tetapi anak adalah jiwa penghuni rumah masa depan yang memiliki kehidupan sendiri.
Sehingga tidak jarang orang tua menginginkan anaknya menjadi pandai di sekolahnya, menjadi juara kelas, nilai-nilai akademiknya selalu sempurna karena hingga saat ini para orang tua masih berpandangan bahwa tolok ukur keberhasilan adalah jika nilai akademik anaknya mendapatkan sempurna dan menjadi juara di kelasnya. Disamping itu masih adanya anggapan orang tua bahwa kesuksesan anak tergantung dari nilai akademiknya, jika nilai akademiknya sangat bagus seakan sudah dijamin bahwa anak tersebut akan sukses.
Pandangan orang tua tentang kesuksesan anak seperti tersebut di atas itu yang harus diluruskan sehingga para orang tua akan semakin memahami potensi pada anak dan dapat memberikan support untuk mengembangkan potensinya.
Faktor yang paling dominan mempengerauhi keberhasilan (Kesuksesan) individu dalam hidupnya bukan semata-mata ditentukan oleh tingginya kecenderungan intelektual, tetapi oleh faktor kematangan emosional (Daniel Goleman dalam Syamsul Yusuf, 2005).
Dari pendapat pakar psikologi di atas tergambar dengan jelas bahwa intelektual yang tinggi bukanlah satu-satunya penentu keberhasilan atau kesuksesan anak, namun mengembangkan kematangan emosionalnya yang lebih urgen karena salah satu faktor itulah yang akan membawanya untuk mencapai kesuksesan dan yang paling utama adalah faktor spiritualnya.
Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia hidup. Tanpa masyarakat, kepribadian seseorang tidak akan berkembang. Anak belajar dan diajar oleh lingkungannya, mengenai bagaimana ia harus bertingkah laku yang baik atau yang tidak baik. Lingkunagn itu dapat berarti orang tua, saudara, teman, atau gurunya. Karena orang yang paling bergantung seorang anak adalah orang tuanya maka peranan orang tua sangat menentukan perkembangan moral anak tersebut (Sally S. Adiwardhana dalam Singgih Gunarsa, 2008).
Dari pendapat di atas sangat jelas bahwa lingkungan baik keluarga maupun masyarakat memiliki pengaruh yang dominan terhadap perkembangan spiritual dan emosional anak. Orang tua berperan penting dalam perkembangan anak untuk meraih keberhasilan.
Beberapa sikap orang tua yang perlu mendapat perhatian, guna perkembangan moral anak adalah :
-     Konsistensi dalam mendidik dan mengajar anak-anak.
-     Sikap orang tua dalam keluarga.
-     Penghayatan orang tua akan agama yang dianutnya.
-     Sikap konsekuen dari orang tua dalam mendisiplinkan anaknya.
Untuk dapat membangun karakter anak agar potensinya dapat dikembangkan maka orang tua sudah harus membangun kebiasaan-kebiasaan positif sejak dini.
Dalam Psikologi Perkembangan bahwa pada masa anak usia sekolah dasar adalah masa kritis dalam dorongan berprestasi, artinya pada masa ini anak membentuk kebiasaan untuk mencapai sukses atau tidaknya, bekerja di atas rata-rata atau sebaliknya. Tingkat perilaku berprestasi ini mempunyai korelasi yang sangat tinggi dengan berperilaku pada masa dewasa (Hurlock, 1994).
Dari pendapat di atas artinya bahwa pada masa usia sekolah dasar adalah masa untuk membentuk karakter berprestasi dan suskes karena karakter tersebut akan mempunyai korelasi yang sangat tinggi pada waktu dewasa kelak.
Dari sinilah bahwa masa usia sekolah dasar adalah masa paling emas untuk membentuk perilaku anak.
Pada masa usia sekolah dasar pikiran anak berkembang secara berangsur-angsur dan tenang, pengetahuannya berkembang secara pesat, minat pada segala sesuatu yang bergerak, ingatan mencapa intensitas paling besar dan paling kuat, daya menghafal dan daya memorinya paling kuat, anak mampu  memuat jumlah materi ingatan paling banyak (Kartono, Kartini, 1990).
Dengan kemampuan kognitif anak yang sangat besar dan kuat itulah maka pada masa usia sekolah dasar ini adalah masa paling tepat untuk membentuk sikap berprestasi dan karakter positif lainnya. Jika masa emas atau masa peka ini dibiarkan berlalu begitu saja tanpa dioptimalkan maka yang terjadi adalah sebaliknya, jika kelak dewasa anak tidak memiliki sikap berprestasi semua itu adalah hasil dari masa usia sekolah dasar.
Untuk dapat mengembangkan kemampuan secara optimal pada masa ini anak sudah membutuhkan lingkungan yang lebih luas, lingkungan keluarga sudah tidak lagi mampu memberikan fasiltas untuk mengembangkan fungsi-fungsi intelektual anak, maka anak memerlukan suatu lingkungan sosial yang baru dan lebih luas yaitu sekolah.
Dari lingkungan sekolah inilah kemampuan anak daapt dikembangkan secara optimal baik kemampuan intelektual maupun emosional dan spiritualnya. Pada masa ini juga anak-anak mulai tertarik dengan hal-hal rumit bahkan untuk pelajaran berhitung yang rumit-rumit mulai disukai.
Dengan kondisi perkembangan intelektual yang begitu pesat maka masa ini disebut juga dengan masa peluang emas. Di masa inilah segala potensi anak dapat diketahui dan dikembangkan secara optimal. Kesuksesan anak pada masa dewasa kelak bergantung pembentukan sikap pada masa usia sekolah dasar. Begitu juga dengan karakter-karakter positif lainnya, jika pada masa ini kurang dikembangkannya pembentykan karakter-karater yang posiyif maka sikap pada waktu dewasapun menjadi kurang baik.
Pada masa usia sekolah dasar ini lah masa potensi terbesar anak untuk dapat dikembangkan dan dioptimalkan sehingga pada dewasa kelak akan menjadi anak yang sukses dengan sikap dan perilaku yang memliki emosional, spiritual, dan intelektual yang tinggi.
Jika pada masa ini dibiarkan berlalu tanpa adanya pembiasaan untuk memebentuk karakter positif dan mengembangkan kemampuannya maka yang terjadi adalah sebaliknya. Dan yang paling berbahaya adalah jika kita tidak mampu dan tidak tahu perkembangan perilaku anak pada masa ini.
Bagi banyak orang tua masa usia sekolah dasar adalah masa yang menyulitkan karena pada masa ini anak tidak mau lagi menuruti perintah orang tua dan dimana ia lebih banyak dipengaruhi oleh teman-teman sebaya. Inilah tantangan terberat bagi orang tua ketika anak-anak mencapai masa usia sekolah dasar padahal disatu sisi inilah masa paling emas untuk mengembangkan potensi dan sikap atau karakter positif anak.
Disinilah peran dan sikap orang tua sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan pengembangan potensi anak. Sikap orang tua yang tenang dan bijaksana, mengutamakan kasih sayang dan tidak dengan ancaman atau kekerasan. Jika orang tua memberikan sikap tersebut maka anak akan merasa nyaman dan tenang dalam melakukan aktifitasnya dan mengembangkan dirinya, merasa enjoy sehingga akan tumbuh rasa percaya diri akan kemam;puannya. Namun justru sebaliknya di saat anak berada di lingkungan sekolah anak membutuhkan ketegasan dari pendidik. Disiplin sekolah dan kewibawaan para guru memberikan kegairahan belajar anak. Tidak jarang anak terikat hatinya dengan guru.
Menanamkan pembiasaan untuk berperilaku posiitif, membentuk karakter yang baik, menguatkan tingkat spiritual, dan membangun emosional agar menjadi anak yang sholih-sholihah merupakan bentuk pembentukan karakter yang akan sangat mudah dan memiliki potensi luar biasa untuk dapat dikembangkan di sekolah dasar. Jika hal tersebut sudah menjadi budaya di sekolah dasar maka kelak sampai dewasa anak sudah terbentuk memiliki kepribadian yang baik. Namun sebaliknya jika sekolah dasar tidak dapat memanfaatkan peluang emas ini dengan baik, maka kelak generasi kita akan menjadi generasi yang lemah. Disinilah peran utama pendidikan di sekolah dasar. Bagaimana menurut saudara...????


Minggu, 24 September 2017

MEMBUMIKAN LITERASI DENGAN GEBYAR

MEMBUMIKAN LITERASI DENGAN GEBYAR
(Kisah Gebyar Literasi di SD Luqman Al Hakim Surabaya)
Oleh : Heri Murtomo

Senyumnya yang mengembang ikut menghiasi langkah kakinya menuju ke atas panggung ketika pembawa acara gebyar literasi memanggilnya. Itulah perwakilan dari Panti Asuhan BJ Habibie yang berada di Keputih Surabaya yang merupakan salah satu dari tiga panti asuhan yang menerima sedekah buku dari SD Luqman Al Hakim Surabaya. Sedekah buku yang dilakukan ini adalah salah satu upaya untuk membumikan dan memasyarakatkan literasi sehingga akan terbangun budaya literasi pada generasi dan masyarakat Indonesia. Sedekah buku ini dapat terwujud karena tak lepas dari dukungan orang tua murid sangat besar terhadap kegiatan ini. Penyerahan sedekah buku ini dilakukan pada saat acara gebyar literasi.
Gebyar literasi adalah salah satu kegiatan yang dilakukan SD Luqman Al Hakim Surabaya untuk membumikan dan membangun budaya literasi kepada masyarakat. Kegiatan seperti ini sudah dilakukan sejak tahun 2015.
Di SD Luqman Al Hakim Surabaya program literasi sudah berjalan dan membudaya. Hal ini terlihat dari beberapa program perpustakaannya yang mengarah kepada membangun budaya literasi. Perpustakaan SD Luqman Al Hakim Surabaya memiliki beberapa program meliputi Sirkulasi merupakan program peminjaman buku pada jam istirahat. Pada saat tersebut siswa-siswi akan memanfaatkan untuk meminjam buku ke perpustakaan. Jenis buku yang dipinjam siswa-siswi pun beraneka macam dari cerita fiksi, non fiksi, maupun ilmu pengetahuan lainnya. Antusias siswa-siswi sangat tinggi terlihat dari banyaknya pengunjung setiap hari  mencapai 100 peminjam dari 592 siswa. Library class salah satu program pembelajaran untuk mengenalkan kepada siswa mengenai seluk-beluk perpustakaan dan menjadi pustakawan yang baik. Dari program Library class ini diharapkan siswa memahami tentang pentingnya perpustakaan sehingga dapat memanfaatkan dan memiliki etika ketika berada di perpustakaan. Book of this month adalah program yang digagas perpustakaan untuk menarik minat baca siswa. Program ini adalah menginformasikan kepada siswa mengenai buku baru yang ada di perpustakaan dan diterbitkan dua kali dalam sebulan. Audio visual atau tontonan cerdas adalah bentuk literasi dalam bentuk tontonan. Siswa akan menonton bareng berbagai film mulai dari film agama, sains, dan umum yang sudah terjadwal untuk setiap kelas. Perpustakaan SD luqman Al Hakim juga memberikan apresiasi kepada para siswa dan guru dalam bentuk Award untuk kategori siswa dan guru.
Disamping perpustakaaan yang ada, di setiap kelas juga terdapat perpustakaan kelas. Pepustakaan dikelola oleh guru kelas bersama dengan siswa. Perpustakaan ini terletak di pojok kelas dan beberapa buku ditata rapi pada rak buku dan siswa yang akan mengisi rak tersebut dengan buku bacaan mereka yang di bawa dari rumah. Dengan adanya peprustakaan kelas maka siswa yang tidak berkeinginan ke perpustakaan masih dapat memebaca buku-buku yang ada di perpustakaan kelas.
Pojok baca adalah salah satu program perpustakaan SD Luqman Al Hakim terbaru yang dicanangkan pada tahun 2016. Pojok baca ini diperuntukan bagi tamu maupun wali  murid yang datang ke sekolah. Pojok baca diletakkan di pojok ruang tamu yang berisi buku-buku bacaan yang disediakan oleh pihak sekolah. Pojok baca ini dikelola langsung oleh perpustakaan SD Luqman Al Hakim Surabaya. Perpustakaan SD Luqman Al Hakim ke depannya akan mengembangkan pojok baca ini menjadi pojok bacaan bagi tamu, wali murid maupun masyarakat.
Bukan hanya hanya bertumpu pada program perpustakaan untuk membangun budaya literasi di SD Luqman Al Hakim. Dalam proses pembelajaranpun tidak luput dari  budaya literasi, begitu juga untuk kegiatan ekstrakurikuler salah satunya adalah mendukung budaya literasi yaitu ekstrakurikuler Penulis Cilik (PeCi). Berbagai hasil tulisan siswa sudah ada yang dibukukan sebagi arsip perpustakaan SD Luqman Al Hakim Surabaya. Yang tidak kalah serunya adalah ada beberapa siswa SD Luqman Al Hakim Surabaya yang secara individu sudah menulis buku cerita dan menerbitkannya. Begitu juga antusias guru-guru, tulisan guru-gurupun dibukukan dan sebagai arsip perpustakaan SD Luqman Al Hakim Surabaya.
Dari program yang sudah dilakukan maka sekolah berkewajiban untuk memasyarakatkan atau istilahnya membumikan literasi kepada masyarakat. Sekolah berkeinginan agar literasi menjadi budaya bagi generasi bangsa dan masyarakat umumnya sesuai dengan program pemerintah. Untuk menunjang dan mengimplementasikan program tersebut maka sekolah mengadakan kegiatan gebyar literasi.
Gebyar literasi ini adalah kegiatan yang dilakukan oleh SD Luqman Al Hakim Surabaya bertujuan untuk membumikan dan memasyarakatkan budaya literasi kepada generasi dan masyarakat. Kegiatan ini sudah dilakukan oleh SD Luqman Al Hakim Surabaya sejak tahun 2015. Berbagai kegiatan yang dilakukan melibatkan siswa, guru, orang tua, masyarakat dan pemerintah kota Surabaya. Lomba untuk siswa dikemas dalam bentuk lomba individu, kelompok, dan antar kelas, sedangkan lomba untuk guru dikemas dalam bentuk membuat tulisan dan resensi buku. Untuk orang tua murid dilakukan lomba perpustakaan keluarga,kegiatan ini diikuti dengan sangat antusias oleh orang tua murid, sedangkan untuk masyarkat dengan memberikan bantuan buku kepada tiga panti asuhan di daerah sekitar sekolah.



Peran Orang Tua
Keberadaan perpustakaan yang semakin besar dengan berbagai programnya dan kegiatan literasi yang sukses dilakukan oleh SD Luqman Al Hakim Surabaya tidak lepas dari peran orang tua. Keterlibatan orang tua sangat berperan aktif untuk ikut menjadi salah satu  bagian dari program-program tersebut. Untuk memperbanyak buku bacaabn di perpustakaan, para orang tua memberikan kontribusi buku bacaan terutama bagi siswa kelas 6 pada saat akan lulus dengan senang hati siswa-siswi memberikan kenangan satu buku bacaan untuk pepustakaan SD Luqman Al Hakim yang sangat dicintainya. Harus diakui memang pihak sekolah juga selalu meningkatkan anggraan pengadaan buku bacaan di perpustakaan setiap tahunnya baik buku bacaan untuk guru maupun untuk siswa.
Pada saat acara gebyar literasi yang dilakukan sejak tahun 2015 peran orang tua sangat besar, dengan berbagai kontribusinya. Untuk kegiatan sedekah buku para orang tua menyumbangkan buku bacaan bahkan adanya yang menyumbangkan lebih dari satu buku bacaan. Antusias orang tua juga terlihat sangat besar saat dilakukan lomba untuk orang tua yaitu lomba mendongeng maupun lomba perpustakaan keluarga. Kehadiran seluruh orang tua pada kegiatan gebyar literasi merupakan support yang tak terhingga kepada SD Luqman Al Hakim Surabaya.
Disamping kontribusi dan peran orang tua tersebut yang tidak kalah besar perannya dalam kegiatan gebyar lietrasi adalah adanya sponsor bagi kegiatan tersebut. Para orang tua murid yang memiliki usaha dengan senang hati untuk ikut terlibat pada kegiatan tersebut dengan memberikan dukungan materiil sebagai sponsor. Bahkan orang tua murid yang memiliki hubungan dengan perusahaan lain pun bersedia untuk mengajak perusahaan tersebut ikut terlibat aktif memberikan dukungan kegiatan gebyar literasi sebagai sponsor.
Berbagai dukungan inilah yang menjadikan SD Luqman Al Hakim untuk terus melakukan upaya memasyarakatkan dan membumikan literasi agar menjadi budaya bagi generasi dan masyarakat. 
Disamping peran orang tua kegiatan literasi ini juga mendapatkan dukungan dari pemerintah kota.

Peran Pemerintah Kota
Komitmen pemerintah kota Surabaya dalam membudayakan literasi untuk masyarakat dan generasi menjadikan SD Luqman Al Hakim Surabaya untuk ikut  berperan aktif dalam program tersebut. Wujud nyata program yang dilakukan SD Luqman Al Hakim adalah dengan mengadakan kegiatan gebyar literasi. Namun jauh sebelum adanya kegiatan tersebut pemerintah daerah kota Surabaya sudah memberikan dukungan kepada SD Luqman Al Hakim dalam program literasi. Dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Surabaya adalah dengan menempatakan salah seorang pustakawan Badan Perpustakaan kota Surabaya untuk berdinas di perpustkaan SD Luqmna AL Hakim Surabaya. Dukungan ini sangat membantu perpustkaan SD Luqman AL Hakim dalam penataan manajemen dan pengembangannya. Disamping itu juga diberikan dukungan bantauan buku bacaan oleh pemerintah kota Surabaya  untuk perpustkaan SD Luqman Al Hakim Surabaya. Pada saat acara gebyar literasi Badan Perpustakaan kota Surabaya juga sangat mensupport dengan mengirimkan mobil bacaan keliling di lokasi kegiatan. Kehadiran Kepala Badan Perpustakaan Surabaya yang pada waktu itu Ibu Arini Pakistyaningsih, SH, MM. dan pejabat Dinas Pendidikan kota Surabaya pada acara gebyar literasi merupakan suatu dukungan yang sangat besar kepada SD Luqman Al Hakim Surabaya.
Dari dukungan pemerintah daerah ini perpustakaan SD Luqman Al Haikim Surabayapun berkembang dengan pesat sehingga pada tahun 2015 dan 2016 meraih juara 2 lomba perpustakaan SD se-kota Surabaya.
Membangun budaya literasi harus dilakukan secara bersama-sama dan saling memberikan dukungan antar elemen masyarakat. Bagi pihak sekolah untuk membangun budaya literasi yang dilakukan oleh guru dan siswa yang tidak kalah penting harus mengikutsertakan peran orang tua, masyarakat, dan pemerintah daerah. Jika hal ini dilakukan secara serasi, selaras dan berkesinambungan maka dalam waktu yang tidak lama budaya literasi akan terbentuk pada generasi bangsa. Pada era yang akan datang generasi bangsa akan menjadi generasi pembaca, kreatif, inovatif, terampil, unggul dan santun serta berakhlak karimah. Bangsa Indonesia akan menjadi semakin besar karena sudah terbangun budaya literasi, bagaimana menurut saudara…?  












Senin, 01 Mei 2017

URGENSI GURU MASA DEPAN (Membangun Generasi Unggul dan Beradab)

URGENSI GURU MASA DEPAN
Membangun Generasi Unggul dan Beradab
Oleh : HERI MURTOMO (Pendidik di Surabaya)

Ukuran keberhasilan peserta didik dapat dilihat dari pertambahan pengetahuannya, peningkatan keterampilannya, dan kemuliaan kepribadiannya. Disinilah peran guru harus menjadi role model (teladan), menjadi pendengar yang baik. Kalau guru mengajar dengan hati, murid akan mendengarkan dengan hati. Guru yang mengajar dengan cinta, murid pasti akan membalasnya dengan cinta. Guru yang pandai menghargai murid, murid pasti menghargai guru. Inilah yang akan dibangun pada generasi mendatang(M. Nuh, Menyemai Kreator Peradaban, 2014)


Perilaku generasi negeri ini pada akhir-akhir ini semakin menguatkan pandangan masyarakat mengenai karakter anak bangsa yang telah mengalami degradasi mental, spiritual, sikap, dan intelektual. Pendidikan dianggap telah gagal mendidik anak bangsa, karena pendidikanlah salah satu solusi yang dapat menyelesaikan persoalan membentuk karakter generasi bangsa. Pendidikan dipandang sebagai salah satu pintu untuk membentuk karakter anak. Karena di dunia pendidikanlah dianggap paling mudah membentuk dan memasukan unsur-unsur karakter kepribadian yang baik ke dalam jiwa anak-anak. Dengan adanya kurikulum baru tahun 2013 diharapkan mampu memberikan solusi untuk membentuk karakter anak didik dan menjadikan generasi unggul. Kurikulum ini oleh pencetusnya dinyatakan sebagai kurikulum karakter karena 70% berisi tentang pembentukan karakter diri anak didik. Salah satu yang melatar belakangi munculnya kurikulum 2013 adalah lunturnya karakter anak bangsa Indonesia. Karakter anak bangsa saat ini oleh sebagian besar masyarakat ditengarai sedang mengalami degradasi. Terbukti semakin maraknya perilaku para pelajar yang dengan tanpa beban melanggar norma agama dan norma negara, didukung perilaku para elite negara yang sudah sangat banyak tertangkap basah melakukan tindak korupsi. Hal yang terjadi tersebut di atas oleh masyarakat disebut sebagai hasil dari pendidikan di sekolah. Kondisi seperti ini harus segera di atasi dengan salah satu cara adalah pendidikan karakter bagi generasi bangsa. Pendidikan karakter memang sangat urgen bagi bangsa ini karena masa depan bangsa terletak pada generasi saat ini. Jika pendidikan di Indonesia tidak dapat membentuk karakter generasi yang baik maka yang akan terjadi adalah kehancuran bangsa. Karakter yang baik, menurut John Luther, lebih patut dipuji daripada bakat yang luar biasa. Hampir semua bakat adalah anugerah. Karakter yang baik, sebaliknya, tidak dianugerahkan kepada kita. Kita harus membangunnya sedikit demi sedikit – dengan pikiran, pilihan, keberanian, dan usaha keras (John Luther, dikutip dari Ratna Megawangi dalam Adian Husaini, 2010). Karakter memang laksana “otot” yang memerlukan latihan demi latihan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan dan kekuatannya. Karena itu, pendidikan karakter memerlukan proses pemahaman, penanaman nilai, dan pembiasaan, sehingga seorang anak didik mencintai perbuatan baik. Contoh, untuk mendidik agar anak mencintai kebersihan, maka harus dilakukan pembiasaan hidup bersih dan diberikan pemahaman agar mereka mencintai kebersihan. Tentu, ini adalah cara yang baik dan memerlukan kesabaran dalam pendidikan (Adian Husaini, 2010).
Bahwa karakter anak dapat dibentuk melalui pemahaman, penanaman nilai dan pembiasaan, serta keteladanan maka hal yang paling mudah untuk memasukan unsur-unsur tersebut adalah proses pendidikan. Dengan sistem yang terencana, aktivitas yang terjadwal dan teratur serta komunitas anak yang seusia maka pendidikan karakter akan lebih mudah dilakukan di sekolah. Guru sebagai pendidik tidak hanya bertugas untuk memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya namun guru harus dapat dijadikan teladan pembentukan karakter anak. Paradigma masyarakat bahwa guru adalah orang yang memiliki keteladanan dan dapat menjadikan anak didiknya untuk menjadi anak yang tumbuh dan kembang dengan karakter yang baik. Masyakat sepenuhnya mempercayakan dan menumpukan hal ini kepada guru sehingga kegagalan karakter anak bangsa merupakan kegagalan guru khususnya dan kegagalan pendidikan di sekolah.
Hingga saat ini dalam hidup dan kehidupan masyarakat, pendidikan karakter yang dipupuk pada anak belum mampu menciptakan kehidupan yang bermoral. Untuk menciptakan hidup dan kehidupan masyarakat yang bermoral bukan hanya sekedar membentuk karakter anak, sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim maka bangsa ini masih perlu membangun tidak sekedar karakter anak bangsa namun anak-anak bangsa yang beradab sehingga menjadikan masyarakat yang beradab. Inilah pentingnya pembentukan generasi yang bukan hanya berkarakter namun juga beradab. Bagi Muslim, berkarakter saja tidaklah cukup. Beda antara Muslim dengan non-Muslim – meskipun sama-sama berkarakter – adalah pada konsep adab. Yang diperlukan oleh kaum Muslim Indonesia bukan hanya menjadi seorang yang berkarakter, tetapi harus menjadi seorang yang berkarakter dan beradab. (Adian Husaini, 2010).
Pemahaman dan pengakuan tentang adab inilah yang membedakan seorang Muslim yang berkarakter dengan seorang komunis atau ateis yang berkarakter. Secara umum, pendidikan karakter yang digalakkan oleh pemerintah adalah baik. Tetapi, orang yang berkarakter saja, belum tentu beradab. Lihatlah, orang-orang Barat, banyak yang sangat peduli dengan kebersihan dan kerja keras, tetapi mereka tidak memandang jahat aktivitas bermabok-mabokan, bertelanjang, dan berbuat tidak senonoh.
Pakar filsafat Islam dan sejarah Melayu menjelaskan, bahwa, ”... adab itu sesungguhnya suatu kelakuan yang harus diamalkan atau dilakukan terhadap diri, dan yang berdasarkan pada ilmu, maka kelakuan atau amalan itu bukan sahaja harus ditujukan kepada sesama insani, bahkan pada kenyataan makhluk jelata, yang merupakan ma’lumat bagi ilmu.” (Syed Muhammad Naquib al-Attas, dalam Adian Husaini, 2010).
Orang beradab adalah yang dapat memahami dan mengakui sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan oleh Allah (Adian Husaini, 2010). Dalam kaitannya dengan pendidikan anak negeri ini maka di samping pembentukan karakter yang lebih utama adalah membangun adab pada diri anak, sehingga anak dapat mengaplikaiskan dalam kehidupan bermasyarakat. Jika kehidupan bermasyarakat dibangun dengan menegakan adab maka kehidupan masyarakat menjadi bermoral dan beradab. Di sekolah anak didik harus diberikan teladan dari hal-hal yang lebih khusus tentang bagaimana menegakan adab. Sebagai seorang pendidik kita harus memberikan pemahaman, penanaman nilai, pembiasaan, dan keteladanan tentang adab yang berkaitan dengan ilmu, guru, dan diri anak didik tersebut. Dari sinilah kita dapat mengetahui apakah proses pendidikan untuk menjadi generasi yang unggul dan beradab sesuai dengan amanat tujuan pendidikan telah berhasil?. Bagaimanakah cara agar tujuan pendidikan itu dapat tercapai?
Ukuran keberhasilan peserta didik dapat dilihat dari pertambahan pengetahuannya, peningkatan keterampilannya, dan kemuliaan kepribadiannya. Disinilah peran guru harus menjadi role model (teladan), mejadi pendengar yang baik. Kalau guru mengajar dengan hati, murid akan mendengarkan dengan hati. Guru yang mengajar dengan cinta, murid pasti akan membalasnya dengan cinta. Guru yang pandai menghargai murid, murid pasti menghargai guru. Inilah yang akan dibangun pada generasi mendatang(M. Nuh, Menyemai Kreator Peradaban, 2014). Seorang guru bukan hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, namun juga harus mendengarkan yang disampaiakn anak didiknya. Dalam proses pendidikan seorang guru wajib memberikan ilmu kepada anak didiknya dengan hati dan dengan cinta.
Jika di dalam diri anak didik sudah terbentuk dengan karakter dan adab yang baik, maka anak didik dalam kehidupan bermasyarakat akan menegakan moral dan adab. Namun harus diakui bahwa membentuk dan membangun anak negeri yang memiliki adab bukanlah persoalan hanya seorang guru dan lembaga pendidikan tapi ini adalah persoalan bersama masyarakat Indonesia. Untuk itu pembentukan karakter dan adab anak bangsa seyogyanya dilakukan bersama-sama antara orang tua sebagai masyarakat dan guru sebagai sekolah. Jika di sekolah telah dibentuk lingkungan dengan karakter dan adab yang baik namun pihak orang tua tidak mendukungnya justru melakukan tindakan yang bertentangan dengan yang dilakukan sekolah yang terjadi adalah anak-anak bangsa akan menjadi anak-anak yang membahayakan karena mereka terbiasa dibentuk dalam dua dunia yang berbeda, di satu sisi memiliki perilaku dengan kebaikan namun di sisi lain perilakunya bertentangan. Untuk menjadikan anak negeri ini menjadi anak yang menegakan adab maka di negeri ini dibutuhkan guru-guru sejati. Mohammad Natsir dalam Adian Husaini 2010, percaya betul dengan ungkapan Dr. G.J. Nieuwenhuis: ”Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.” Guru yang dimaksud Natsir bukan sekedar “guru pengajar dalam kelas formal”. Guru adalah para pemimpin, orang tua, dan juga pendidik. Guru adalah teladan. “Guru” adalah “digugu” (didengar) dan “ditiru” (dicontoh). Jika dalam hidup dan kehidupan bermasyarakat sebagai orang dewasa kita dapat memberikan teladan yang baik maka anak negeri ini akan menjadi anak yang menegakan adab begitu sebaliknya. Pembentukan karakter dan adab yang baik pada diri anak dibutuhkan keteladanan dari para pemimpin bangsa, masyarakat, orang tua dan pendidik di sekolah.
Di dalam kitab karya KH. Hasyim Asy’ari berjudul Adab al-alim wa al-muta’allim fi ma yahtaj ilaih al-muta’allim fi ahwal ta’limihi wa ma yatawaqaf ‘alaih al-muta’allim fi maqamat ta’limihi sebelum memberikan ilmu kepada anak didik harus seorang guru harus memiliki etika-etika yang harus ditegakkan antara lain :
1.      Etika terhadap dirinya yaitu berhati-hati (wara’), tidak mempunyai sikap tinggi hati tetapi tawadhu’, konsentrasi(khusyu’), tidak terlalu memanjakan anak didik, tidak menyalahgunakan ilmu dengan cara menyombongkannya, membiasakan diri menulis, mengarang, meringkas.
2.      Etika terhadap anak didik yaitu guru hendaknya memiliki keihlasan dalam mengajar, memberikan motivasi, memberikan kemudahan dalam proses pembelajaran, memahami kemampuan, dan memberikan latihan-latihan yang sifatnya membantu.
Dari pendapat di atas jika seorang guru dapat melakukan hal-hal tersebut maka peserta didik yang diharapkan untuk menjadi generasi yang unggul dan berakhlak baik akan terwujud.
Kisah David K. Hatch dalam everyday greatness (2007). Konon seorang profesor meneliti sebuah kampung kumuh. Ia berhipotesa bahwa anak yang hidup dikawasan yang kumuh hampir tidak ada yang akan suskes, mereka akan menjadi sampah masyarakat. Setelah berjalan 25 tahun, sang profesor kaget hasil surveinya bahwa dari 190 anak yang dulu diwawancarai hanya 4 orang yang masuk penjara, semua hidup normal dan hidup berhasil di berbagai bidang. Setelah dilakukan penelitian ulang, ternyata ada sebuah fenomena yang membuat profesor itu sadar. Dia menduga ada sosok dalam hidup mereka yang bisa mngubah kondisi umum ini. Hampir semua anak yang disurvei mengingat sosok guru SMP meereka, Bu Chysan.
Sang profesor menanyakan ke Bu Chysan, apa rahasianya bisa membawa perubahan hidup yang luar biasa bagi murid-muirdnya, Ia pun menjawab “yang saya tahu, saya banyak mendidik mereka dengan cinta, dan saya sangat mencintai mereka” (M. Nuh, Menyemai Kreator Peradaban, 2014).
Masih menurut M. Nuh bahwa dari kisah tersebut : (i) guru harus menjadi pembelajar sejati, (ii) guru harus bertanggung jawab terhadap materi yang diajarkan, (iii) guru haruslah membangun jembatan rasa antara dirinya dengan murid-muridnya, sehingga ada ikatan emosional.
Dari sinilah dapat dipahami bahwasannya guru memiliki peranan yang penting dalam proses pembentukan mental dan karakter generasi. Mungkin bagi seorang guru tidak menyadari bahwa mereka adalah inspirasi bagi anak didiknya. Untuk itulah diharapkan seorang guru harus dapat memberikan keteladanan dan mengajarkannya dengan penuh cinta dan kasih sayang bagi anak didiknya karena setiap kalimat, nasehat, dan peringatan yang disampaikan seorang guru secara tidak langsung akan membentuk kerpibadian anak didiknya. Di masa inilah anak didik merasakan kehausan akan kasih sayang dari seorang guru yang tulus yang mendidiknya dengan hati dan cinta, mereka sangat menyadari akan kegersangan hatinya dan hanya kepada gurunyalah mereka membuuthkan tuntunan.

Jika seorang guru dapat melakukannya dan menerapkan pendapat para ahli di atas maka proses pendidikan yang berlangsung akan dapat membentuk generasi yang unggul dan berakhlak mulia. Bagaimana menurut saudara?