Minggu, 24 September 2017

MEMBUMIKAN LITERASI DENGAN GEBYAR

MEMBUMIKAN LITERASI DENGAN GEBYAR
(Kisah Gebyar Literasi di SD Luqman Al Hakim Surabaya)
Oleh : Heri Murtomo

Senyumnya yang mengembang ikut menghiasi langkah kakinya menuju ke atas panggung ketika pembawa acara gebyar literasi memanggilnya. Itulah perwakilan dari Panti Asuhan BJ Habibie yang berada di Keputih Surabaya yang merupakan salah satu dari tiga panti asuhan yang menerima sedekah buku dari SD Luqman Al Hakim Surabaya. Sedekah buku yang dilakukan ini adalah salah satu upaya untuk membumikan dan memasyarakatkan literasi sehingga akan terbangun budaya literasi pada generasi dan masyarakat Indonesia. Sedekah buku ini dapat terwujud karena tak lepas dari dukungan orang tua murid sangat besar terhadap kegiatan ini. Penyerahan sedekah buku ini dilakukan pada saat acara gebyar literasi.
Gebyar literasi adalah salah satu kegiatan yang dilakukan SD Luqman Al Hakim Surabaya untuk membumikan dan membangun budaya literasi kepada masyarakat. Kegiatan seperti ini sudah dilakukan sejak tahun 2015.
Di SD Luqman Al Hakim Surabaya program literasi sudah berjalan dan membudaya. Hal ini terlihat dari beberapa program perpustakaannya yang mengarah kepada membangun budaya literasi. Perpustakaan SD Luqman Al Hakim Surabaya memiliki beberapa program meliputi Sirkulasi merupakan program peminjaman buku pada jam istirahat. Pada saat tersebut siswa-siswi akan memanfaatkan untuk meminjam buku ke perpustakaan. Jenis buku yang dipinjam siswa-siswi pun beraneka macam dari cerita fiksi, non fiksi, maupun ilmu pengetahuan lainnya. Antusias siswa-siswi sangat tinggi terlihat dari banyaknya pengunjung setiap hari  mencapai 100 peminjam dari 592 siswa. Library class salah satu program pembelajaran untuk mengenalkan kepada siswa mengenai seluk-beluk perpustakaan dan menjadi pustakawan yang baik. Dari program Library class ini diharapkan siswa memahami tentang pentingnya perpustakaan sehingga dapat memanfaatkan dan memiliki etika ketika berada di perpustakaan. Book of this month adalah program yang digagas perpustakaan untuk menarik minat baca siswa. Program ini adalah menginformasikan kepada siswa mengenai buku baru yang ada di perpustakaan dan diterbitkan dua kali dalam sebulan. Audio visual atau tontonan cerdas adalah bentuk literasi dalam bentuk tontonan. Siswa akan menonton bareng berbagai film mulai dari film agama, sains, dan umum yang sudah terjadwal untuk setiap kelas. Perpustakaan SD luqman Al Hakim juga memberikan apresiasi kepada para siswa dan guru dalam bentuk Award untuk kategori siswa dan guru.
Disamping perpustakaaan yang ada, di setiap kelas juga terdapat perpustakaan kelas. Pepustakaan dikelola oleh guru kelas bersama dengan siswa. Perpustakaan ini terletak di pojok kelas dan beberapa buku ditata rapi pada rak buku dan siswa yang akan mengisi rak tersebut dengan buku bacaan mereka yang di bawa dari rumah. Dengan adanya peprustakaan kelas maka siswa yang tidak berkeinginan ke perpustakaan masih dapat memebaca buku-buku yang ada di perpustakaan kelas.
Pojok baca adalah salah satu program perpustakaan SD Luqman Al Hakim terbaru yang dicanangkan pada tahun 2016. Pojok baca ini diperuntukan bagi tamu maupun wali  murid yang datang ke sekolah. Pojok baca diletakkan di pojok ruang tamu yang berisi buku-buku bacaan yang disediakan oleh pihak sekolah. Pojok baca ini dikelola langsung oleh perpustakaan SD Luqman Al Hakim Surabaya. Perpustakaan SD Luqman Al Hakim ke depannya akan mengembangkan pojok baca ini menjadi pojok bacaan bagi tamu, wali murid maupun masyarakat.
Bukan hanya hanya bertumpu pada program perpustakaan untuk membangun budaya literasi di SD Luqman Al Hakim. Dalam proses pembelajaranpun tidak luput dari  budaya literasi, begitu juga untuk kegiatan ekstrakurikuler salah satunya adalah mendukung budaya literasi yaitu ekstrakurikuler Penulis Cilik (PeCi). Berbagai hasil tulisan siswa sudah ada yang dibukukan sebagi arsip perpustakaan SD Luqman Al Hakim Surabaya. Yang tidak kalah serunya adalah ada beberapa siswa SD Luqman Al Hakim Surabaya yang secara individu sudah menulis buku cerita dan menerbitkannya. Begitu juga antusias guru-guru, tulisan guru-gurupun dibukukan dan sebagai arsip perpustakaan SD Luqman Al Hakim Surabaya.
Dari program yang sudah dilakukan maka sekolah berkewajiban untuk memasyarakatkan atau istilahnya membumikan literasi kepada masyarakat. Sekolah berkeinginan agar literasi menjadi budaya bagi generasi bangsa dan masyarakat umumnya sesuai dengan program pemerintah. Untuk menunjang dan mengimplementasikan program tersebut maka sekolah mengadakan kegiatan gebyar literasi.
Gebyar literasi ini adalah kegiatan yang dilakukan oleh SD Luqman Al Hakim Surabaya bertujuan untuk membumikan dan memasyarakatkan budaya literasi kepada generasi dan masyarakat. Kegiatan ini sudah dilakukan oleh SD Luqman Al Hakim Surabaya sejak tahun 2015. Berbagai kegiatan yang dilakukan melibatkan siswa, guru, orang tua, masyarakat dan pemerintah kota Surabaya. Lomba untuk siswa dikemas dalam bentuk lomba individu, kelompok, dan antar kelas, sedangkan lomba untuk guru dikemas dalam bentuk membuat tulisan dan resensi buku. Untuk orang tua murid dilakukan lomba perpustakaan keluarga,kegiatan ini diikuti dengan sangat antusias oleh orang tua murid, sedangkan untuk masyarkat dengan memberikan bantuan buku kepada tiga panti asuhan di daerah sekitar sekolah.



Peran Orang Tua
Keberadaan perpustakaan yang semakin besar dengan berbagai programnya dan kegiatan literasi yang sukses dilakukan oleh SD Luqman Al Hakim Surabaya tidak lepas dari peran orang tua. Keterlibatan orang tua sangat berperan aktif untuk ikut menjadi salah satu  bagian dari program-program tersebut. Untuk memperbanyak buku bacaabn di perpustakaan, para orang tua memberikan kontribusi buku bacaan terutama bagi siswa kelas 6 pada saat akan lulus dengan senang hati siswa-siswi memberikan kenangan satu buku bacaan untuk pepustakaan SD Luqman Al Hakim yang sangat dicintainya. Harus diakui memang pihak sekolah juga selalu meningkatkan anggraan pengadaan buku bacaan di perpustakaan setiap tahunnya baik buku bacaan untuk guru maupun untuk siswa.
Pada saat acara gebyar literasi yang dilakukan sejak tahun 2015 peran orang tua sangat besar, dengan berbagai kontribusinya. Untuk kegiatan sedekah buku para orang tua menyumbangkan buku bacaan bahkan adanya yang menyumbangkan lebih dari satu buku bacaan. Antusias orang tua juga terlihat sangat besar saat dilakukan lomba untuk orang tua yaitu lomba mendongeng maupun lomba perpustakaan keluarga. Kehadiran seluruh orang tua pada kegiatan gebyar literasi merupakan support yang tak terhingga kepada SD Luqman Al Hakim Surabaya.
Disamping kontribusi dan peran orang tua tersebut yang tidak kalah besar perannya dalam kegiatan gebyar lietrasi adalah adanya sponsor bagi kegiatan tersebut. Para orang tua murid yang memiliki usaha dengan senang hati untuk ikut terlibat pada kegiatan tersebut dengan memberikan dukungan materiil sebagai sponsor. Bahkan orang tua murid yang memiliki hubungan dengan perusahaan lain pun bersedia untuk mengajak perusahaan tersebut ikut terlibat aktif memberikan dukungan kegiatan gebyar literasi sebagai sponsor.
Berbagai dukungan inilah yang menjadikan SD Luqman Al Hakim untuk terus melakukan upaya memasyarakatkan dan membumikan literasi agar menjadi budaya bagi generasi dan masyarakat. 
Disamping peran orang tua kegiatan literasi ini juga mendapatkan dukungan dari pemerintah kota.

Peran Pemerintah Kota
Komitmen pemerintah kota Surabaya dalam membudayakan literasi untuk masyarakat dan generasi menjadikan SD Luqman Al Hakim Surabaya untuk ikut  berperan aktif dalam program tersebut. Wujud nyata program yang dilakukan SD Luqman Al Hakim adalah dengan mengadakan kegiatan gebyar literasi. Namun jauh sebelum adanya kegiatan tersebut pemerintah daerah kota Surabaya sudah memberikan dukungan kepada SD Luqman Al Hakim dalam program literasi. Dukungan yang diberikan oleh Pemerintah Kota Surabaya adalah dengan menempatakan salah seorang pustakawan Badan Perpustakaan kota Surabaya untuk berdinas di perpustkaan SD Luqmna AL Hakim Surabaya. Dukungan ini sangat membantu perpustkaan SD Luqman AL Hakim dalam penataan manajemen dan pengembangannya. Disamping itu juga diberikan dukungan bantauan buku bacaan oleh pemerintah kota Surabaya  untuk perpustkaan SD Luqman Al Hakim Surabaya. Pada saat acara gebyar literasi Badan Perpustakaan kota Surabaya juga sangat mensupport dengan mengirimkan mobil bacaan keliling di lokasi kegiatan. Kehadiran Kepala Badan Perpustakaan Surabaya yang pada waktu itu Ibu Arini Pakistyaningsih, SH, MM. dan pejabat Dinas Pendidikan kota Surabaya pada acara gebyar literasi merupakan suatu dukungan yang sangat besar kepada SD Luqman Al Hakim Surabaya.
Dari dukungan pemerintah daerah ini perpustakaan SD Luqman Al Haikim Surabayapun berkembang dengan pesat sehingga pada tahun 2015 dan 2016 meraih juara 2 lomba perpustakaan SD se-kota Surabaya.
Membangun budaya literasi harus dilakukan secara bersama-sama dan saling memberikan dukungan antar elemen masyarakat. Bagi pihak sekolah untuk membangun budaya literasi yang dilakukan oleh guru dan siswa yang tidak kalah penting harus mengikutsertakan peran orang tua, masyarakat, dan pemerintah daerah. Jika hal ini dilakukan secara serasi, selaras dan berkesinambungan maka dalam waktu yang tidak lama budaya literasi akan terbentuk pada generasi bangsa. Pada era yang akan datang generasi bangsa akan menjadi generasi pembaca, kreatif, inovatif, terampil, unggul dan santun serta berakhlak karimah. Bangsa Indonesia akan menjadi semakin besar karena sudah terbangun budaya literasi, bagaimana menurut saudara…?  












Senin, 01 Mei 2017

URGENSI GURU MASA DEPAN (Membangun Generasi Unggul dan Beradab)

URGENSI GURU MASA DEPAN
Membangun Generasi Unggul dan Beradab
Oleh : HERI MURTOMO (Pendidik di Surabaya)

Ukuran keberhasilan peserta didik dapat dilihat dari pertambahan pengetahuannya, peningkatan keterampilannya, dan kemuliaan kepribadiannya. Disinilah peran guru harus menjadi role model (teladan), menjadi pendengar yang baik. Kalau guru mengajar dengan hati, murid akan mendengarkan dengan hati. Guru yang mengajar dengan cinta, murid pasti akan membalasnya dengan cinta. Guru yang pandai menghargai murid, murid pasti menghargai guru. Inilah yang akan dibangun pada generasi mendatang(M. Nuh, Menyemai Kreator Peradaban, 2014)


Perilaku generasi negeri ini pada akhir-akhir ini semakin menguatkan pandangan masyarakat mengenai karakter anak bangsa yang telah mengalami degradasi mental, spiritual, sikap, dan intelektual. Pendidikan dianggap telah gagal mendidik anak bangsa, karena pendidikanlah salah satu solusi yang dapat menyelesaikan persoalan membentuk karakter generasi bangsa. Pendidikan dipandang sebagai salah satu pintu untuk membentuk karakter anak. Karena di dunia pendidikanlah dianggap paling mudah membentuk dan memasukan unsur-unsur karakter kepribadian yang baik ke dalam jiwa anak-anak. Dengan adanya kurikulum baru tahun 2013 diharapkan mampu memberikan solusi untuk membentuk karakter anak didik dan menjadikan generasi unggul. Kurikulum ini oleh pencetusnya dinyatakan sebagai kurikulum karakter karena 70% berisi tentang pembentukan karakter diri anak didik. Salah satu yang melatar belakangi munculnya kurikulum 2013 adalah lunturnya karakter anak bangsa Indonesia. Karakter anak bangsa saat ini oleh sebagian besar masyarakat ditengarai sedang mengalami degradasi. Terbukti semakin maraknya perilaku para pelajar yang dengan tanpa beban melanggar norma agama dan norma negara, didukung perilaku para elite negara yang sudah sangat banyak tertangkap basah melakukan tindak korupsi. Hal yang terjadi tersebut di atas oleh masyarakat disebut sebagai hasil dari pendidikan di sekolah. Kondisi seperti ini harus segera di atasi dengan salah satu cara adalah pendidikan karakter bagi generasi bangsa. Pendidikan karakter memang sangat urgen bagi bangsa ini karena masa depan bangsa terletak pada generasi saat ini. Jika pendidikan di Indonesia tidak dapat membentuk karakter generasi yang baik maka yang akan terjadi adalah kehancuran bangsa. Karakter yang baik, menurut John Luther, lebih patut dipuji daripada bakat yang luar biasa. Hampir semua bakat adalah anugerah. Karakter yang baik, sebaliknya, tidak dianugerahkan kepada kita. Kita harus membangunnya sedikit demi sedikit – dengan pikiran, pilihan, keberanian, dan usaha keras (John Luther, dikutip dari Ratna Megawangi dalam Adian Husaini, 2010). Karakter memang laksana “otot” yang memerlukan latihan demi latihan untuk menjaga dan meningkatkan kualitas kesehatan dan kekuatannya. Karena itu, pendidikan karakter memerlukan proses pemahaman, penanaman nilai, dan pembiasaan, sehingga seorang anak didik mencintai perbuatan baik. Contoh, untuk mendidik agar anak mencintai kebersihan, maka harus dilakukan pembiasaan hidup bersih dan diberikan pemahaman agar mereka mencintai kebersihan. Tentu, ini adalah cara yang baik dan memerlukan kesabaran dalam pendidikan (Adian Husaini, 2010).
Bahwa karakter anak dapat dibentuk melalui pemahaman, penanaman nilai dan pembiasaan, serta keteladanan maka hal yang paling mudah untuk memasukan unsur-unsur tersebut adalah proses pendidikan. Dengan sistem yang terencana, aktivitas yang terjadwal dan teratur serta komunitas anak yang seusia maka pendidikan karakter akan lebih mudah dilakukan di sekolah. Guru sebagai pendidik tidak hanya bertugas untuk memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didiknya namun guru harus dapat dijadikan teladan pembentukan karakter anak. Paradigma masyarakat bahwa guru adalah orang yang memiliki keteladanan dan dapat menjadikan anak didiknya untuk menjadi anak yang tumbuh dan kembang dengan karakter yang baik. Masyakat sepenuhnya mempercayakan dan menumpukan hal ini kepada guru sehingga kegagalan karakter anak bangsa merupakan kegagalan guru khususnya dan kegagalan pendidikan di sekolah.
Hingga saat ini dalam hidup dan kehidupan masyarakat, pendidikan karakter yang dipupuk pada anak belum mampu menciptakan kehidupan yang bermoral. Untuk menciptakan hidup dan kehidupan masyarakat yang bermoral bukan hanya sekedar membentuk karakter anak, sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim maka bangsa ini masih perlu membangun tidak sekedar karakter anak bangsa namun anak-anak bangsa yang beradab sehingga menjadikan masyarakat yang beradab. Inilah pentingnya pembentukan generasi yang bukan hanya berkarakter namun juga beradab. Bagi Muslim, berkarakter saja tidaklah cukup. Beda antara Muslim dengan non-Muslim – meskipun sama-sama berkarakter – adalah pada konsep adab. Yang diperlukan oleh kaum Muslim Indonesia bukan hanya menjadi seorang yang berkarakter, tetapi harus menjadi seorang yang berkarakter dan beradab. (Adian Husaini, 2010).
Pemahaman dan pengakuan tentang adab inilah yang membedakan seorang Muslim yang berkarakter dengan seorang komunis atau ateis yang berkarakter. Secara umum, pendidikan karakter yang digalakkan oleh pemerintah adalah baik. Tetapi, orang yang berkarakter saja, belum tentu beradab. Lihatlah, orang-orang Barat, banyak yang sangat peduli dengan kebersihan dan kerja keras, tetapi mereka tidak memandang jahat aktivitas bermabok-mabokan, bertelanjang, dan berbuat tidak senonoh.
Pakar filsafat Islam dan sejarah Melayu menjelaskan, bahwa, ”... adab itu sesungguhnya suatu kelakuan yang harus diamalkan atau dilakukan terhadap diri, dan yang berdasarkan pada ilmu, maka kelakuan atau amalan itu bukan sahaja harus ditujukan kepada sesama insani, bahkan pada kenyataan makhluk jelata, yang merupakan ma’lumat bagi ilmu.” (Syed Muhammad Naquib al-Attas, dalam Adian Husaini, 2010).
Orang beradab adalah yang dapat memahami dan mengakui sesuatu sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan oleh Allah (Adian Husaini, 2010). Dalam kaitannya dengan pendidikan anak negeri ini maka di samping pembentukan karakter yang lebih utama adalah membangun adab pada diri anak, sehingga anak dapat mengaplikaiskan dalam kehidupan bermasyarakat. Jika kehidupan bermasyarakat dibangun dengan menegakan adab maka kehidupan masyarakat menjadi bermoral dan beradab. Di sekolah anak didik harus diberikan teladan dari hal-hal yang lebih khusus tentang bagaimana menegakan adab. Sebagai seorang pendidik kita harus memberikan pemahaman, penanaman nilai, pembiasaan, dan keteladanan tentang adab yang berkaitan dengan ilmu, guru, dan diri anak didik tersebut. Dari sinilah kita dapat mengetahui apakah proses pendidikan untuk menjadi generasi yang unggul dan beradab sesuai dengan amanat tujuan pendidikan telah berhasil?. Bagaimanakah cara agar tujuan pendidikan itu dapat tercapai?
Ukuran keberhasilan peserta didik dapat dilihat dari pertambahan pengetahuannya, peningkatan keterampilannya, dan kemuliaan kepribadiannya. Disinilah peran guru harus menjadi role model (teladan), mejadi pendengar yang baik. Kalau guru mengajar dengan hati, murid akan mendengarkan dengan hati. Guru yang mengajar dengan cinta, murid pasti akan membalasnya dengan cinta. Guru yang pandai menghargai murid, murid pasti menghargai guru. Inilah yang akan dibangun pada generasi mendatang(M. Nuh, Menyemai Kreator Peradaban, 2014). Seorang guru bukan hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, namun juga harus mendengarkan yang disampaiakn anak didiknya. Dalam proses pendidikan seorang guru wajib memberikan ilmu kepada anak didiknya dengan hati dan dengan cinta.
Jika di dalam diri anak didik sudah terbentuk dengan karakter dan adab yang baik, maka anak didik dalam kehidupan bermasyarakat akan menegakan moral dan adab. Namun harus diakui bahwa membentuk dan membangun anak negeri yang memiliki adab bukanlah persoalan hanya seorang guru dan lembaga pendidikan tapi ini adalah persoalan bersama masyarakat Indonesia. Untuk itu pembentukan karakter dan adab anak bangsa seyogyanya dilakukan bersama-sama antara orang tua sebagai masyarakat dan guru sebagai sekolah. Jika di sekolah telah dibentuk lingkungan dengan karakter dan adab yang baik namun pihak orang tua tidak mendukungnya justru melakukan tindakan yang bertentangan dengan yang dilakukan sekolah yang terjadi adalah anak-anak bangsa akan menjadi anak-anak yang membahayakan karena mereka terbiasa dibentuk dalam dua dunia yang berbeda, di satu sisi memiliki perilaku dengan kebaikan namun di sisi lain perilakunya bertentangan. Untuk menjadikan anak negeri ini menjadi anak yang menegakan adab maka di negeri ini dibutuhkan guru-guru sejati. Mohammad Natsir dalam Adian Husaini 2010, percaya betul dengan ungkapan Dr. G.J. Nieuwenhuis: ”Suatu bangsa tidak akan maju, sebelum ada di antara bangsa itu segolongan guru yang suka berkorban untuk keperluan bangsanya.” Guru yang dimaksud Natsir bukan sekedar “guru pengajar dalam kelas formal”. Guru adalah para pemimpin, orang tua, dan juga pendidik. Guru adalah teladan. “Guru” adalah “digugu” (didengar) dan “ditiru” (dicontoh). Jika dalam hidup dan kehidupan bermasyarakat sebagai orang dewasa kita dapat memberikan teladan yang baik maka anak negeri ini akan menjadi anak yang menegakan adab begitu sebaliknya. Pembentukan karakter dan adab yang baik pada diri anak dibutuhkan keteladanan dari para pemimpin bangsa, masyarakat, orang tua dan pendidik di sekolah.
Di dalam kitab karya KH. Hasyim Asy’ari berjudul Adab al-alim wa al-muta’allim fi ma yahtaj ilaih al-muta’allim fi ahwal ta’limihi wa ma yatawaqaf ‘alaih al-muta’allim fi maqamat ta’limihi sebelum memberikan ilmu kepada anak didik harus seorang guru harus memiliki etika-etika yang harus ditegakkan antara lain :
1.      Etika terhadap dirinya yaitu berhati-hati (wara’), tidak mempunyai sikap tinggi hati tetapi tawadhu’, konsentrasi(khusyu’), tidak terlalu memanjakan anak didik, tidak menyalahgunakan ilmu dengan cara menyombongkannya, membiasakan diri menulis, mengarang, meringkas.
2.      Etika terhadap anak didik yaitu guru hendaknya memiliki keihlasan dalam mengajar, memberikan motivasi, memberikan kemudahan dalam proses pembelajaran, memahami kemampuan, dan memberikan latihan-latihan yang sifatnya membantu.
Dari pendapat di atas jika seorang guru dapat melakukan hal-hal tersebut maka peserta didik yang diharapkan untuk menjadi generasi yang unggul dan berakhlak baik akan terwujud.
Kisah David K. Hatch dalam everyday greatness (2007). Konon seorang profesor meneliti sebuah kampung kumuh. Ia berhipotesa bahwa anak yang hidup dikawasan yang kumuh hampir tidak ada yang akan suskes, mereka akan menjadi sampah masyarakat. Setelah berjalan 25 tahun, sang profesor kaget hasil surveinya bahwa dari 190 anak yang dulu diwawancarai hanya 4 orang yang masuk penjara, semua hidup normal dan hidup berhasil di berbagai bidang. Setelah dilakukan penelitian ulang, ternyata ada sebuah fenomena yang membuat profesor itu sadar. Dia menduga ada sosok dalam hidup mereka yang bisa mngubah kondisi umum ini. Hampir semua anak yang disurvei mengingat sosok guru SMP meereka, Bu Chysan.
Sang profesor menanyakan ke Bu Chysan, apa rahasianya bisa membawa perubahan hidup yang luar biasa bagi murid-muirdnya, Ia pun menjawab “yang saya tahu, saya banyak mendidik mereka dengan cinta, dan saya sangat mencintai mereka” (M. Nuh, Menyemai Kreator Peradaban, 2014).
Masih menurut M. Nuh bahwa dari kisah tersebut : (i) guru harus menjadi pembelajar sejati, (ii) guru harus bertanggung jawab terhadap materi yang diajarkan, (iii) guru haruslah membangun jembatan rasa antara dirinya dengan murid-muridnya, sehingga ada ikatan emosional.
Dari sinilah dapat dipahami bahwasannya guru memiliki peranan yang penting dalam proses pembentukan mental dan karakter generasi. Mungkin bagi seorang guru tidak menyadari bahwa mereka adalah inspirasi bagi anak didiknya. Untuk itulah diharapkan seorang guru harus dapat memberikan keteladanan dan mengajarkannya dengan penuh cinta dan kasih sayang bagi anak didiknya karena setiap kalimat, nasehat, dan peringatan yang disampaikan seorang guru secara tidak langsung akan membentuk kerpibadian anak didiknya. Di masa inilah anak didik merasakan kehausan akan kasih sayang dari seorang guru yang tulus yang mendidiknya dengan hati dan cinta, mereka sangat menyadari akan kegersangan hatinya dan hanya kepada gurunyalah mereka membuuthkan tuntunan.

Jika seorang guru dapat melakukannya dan menerapkan pendapat para ahli di atas maka proses pendidikan yang berlangsung akan dapat membentuk generasi yang unggul dan berakhlak mulia. Bagaimana menurut saudara?

Kamis, 24 November 2016

GURU, PEMBANGUN GENERASI

Image result for karikatur ucapan terimakasih kepada guru  




















GURU, PEMBANGUN GENERASI
Heri Murtomo (Pelaku Pendidikan di Surabaya)

“Begitu mulia tugas seorang guru, harusnya kita berterima kasih kepada guru karena gurulah yang mendidik kita, mengajarkan tata krama, etika, kesopanan, membimbing kita menjadi manusia yang bermental tangguh dan berakhlak mulia, mengajarkan kita baca – tulis, mengajarkan kita banyak hal. Tapi sudahkah kita seperti itu? Kita kembalikan pada diri kita masing-masing karena kenyataan hingga saat ini justru sebaliknya”.

Semua memahami bahwa masa depan bangsa tergantung pada generasinya saat ini. Generasi memegang peranan penting dalam pembangunan bangsa di masa yang akan datang. Jika generasi saat ini memiliki karakter yang tidak baik maka masa depan  bangsa akan berakhir, namun jika terjadi sebaliknya maka masa depan bangsa akan jaya, akan menjadi negara yang kuat, maju, dan berpengaruh di kancah internasional. Untuk menghasilkan generasi yang memiliki kualitas karakter yang baik sangat erat hubungannya dengan kualitas pendidikan, memang masih banyak faktor lain yang mempengaruhi namun pendidikan dianggap pintu paling mudah untuk membangun karakter generasi. Sehingga terbangun pendapat bahwa kualitas generasi sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Negara makmur belum tentu mampu menyelenggarakan pendidikan berkualitas, tetapi pendidikan berkualitas menjamin negara makmur. Soedarsono (2009:46) mengatakan: “Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character building). Karena character building inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju dan jaya serta bermartabat. Kalau character building tidak dilakukan, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli”.
Dari pendapat ini sudah sangat jelas bahwa pendidikan karakter merupakan persoalan inti dari proses pendidikan. Jika bangsa ini ingin menjadi bangsa yang besar, berpengaruh, dan maju maka kualitas pendidikannya harus didahulukan, dan kualitas pendidikan terletak pada kualitas pendidikan karakternya.
Pada umumnya sebagian besar masyarakat berpandangan bahwa proses pendidikan adalah bergantung pendidiknya atau gurunya. Berhasil tidaknya sebuah proses pendidikan untuk membangun generasi yang berkarakter terletak pada gurunya. Jika proses pendidikan tidak mampu membangun generasi yang berkarakter maka pendidiknya adalah orang yang paling betanggung jawab. Dari sinilah akhirnya muncul pendapat masyarakat bahwa gurulah yang harus membangun generasi berkarakter. Guru sebagai pembangun generasi bangsa begitulah mungkin kata yang tepat untuk itu.
Mengingat kepercayaan dan pandangan masyarakat begitu besar kepada guru, dimana dibebankannya tanggung jawab untuk membangun generasi bangsa yaitu generasi yang akan menjadi harapan nengeri ini, maka sungguh mulia menjadi seorang guru walaupun harus menanggung beban begitu besar.
Apakah mulianya seorang guru betul-betul dapat dirasakan oleh guru saat ini, baik itu secara psikis maupun materiil? padahal beban besar dari masyarakat dan orang tua ada di pundaknya.
Tugas seorang guru sangatlah berat bukan hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, tapi harus dapat memberikan keteladanan untuk membangun karakter anak didiknya, juga sebagai orang tua dari anak didiknya di sekolah dan seorang guru harus memahami karakteristik setiap anak didiknya. Bahkan seorang guru lebih tahu banyak hal tentang anak didiknya daripada orang tua si anak, kedekatan seorang guru kepada anak didiknya melebihi kedekatan anak kepada orang tuanya, ucapan guru lebih diturut anak daripada ucapan orang tuanya. Dari hal itu sudah sangat jelas bahwa menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan biasa namun sebuah profesi yang harus dijalani dengan hati.
Di dalam Islam mendidik bukanlah sekedar mentransfer ilmu pengetahuan dan informasi, tetapi lebih dari itu, mendidik adalah proses transformasi nilai dan kearifan kepada setiap peserta didik. Transfer nilai membutuhkan keterlibatan seluruh aspek yang ada pada diri peserta didik, disamping melibatkan pengalaman seluurh anggota komunitas, mulia dari sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat (Muhammad Syafii Antonio dalam Ensiklopedi Leadership dan Manajemen Muhammad, 2011).
Dari sinilah kita dapat memahami bahwa setiap perilaku guru baik di sekolah maupun di luar sekolah menjadi panutan anak didik dan masyarakat. Pada waktu guru menyampaikan ilmu kepada anak didiknya guru harus tampil energik, semangat, ceria, dan guru tidak boleh nampak malas, kuang bersemangat atau sedih, tidak boleh merasa capek karena jika hal itu terjadi maka anak didiknya akan ikut larut dalam suasana hati guru yang sedang duka. Dalam proses transfer ilmu maka hal tersebut sangatlah tidak bagus karena akan berpengaruh terhadap ilmu yang diterima oleh anak didiknya. Begitu juga saat bertutur kata seorang guru tidak boleh mengeluarkan kata-kata kasar, jorok, kurang sopan, namun guru harus betutur kata yang sopan dan memahami anak didiknya. Dalam berperilakupun begitu seorang guru memiliki etika tertentu dimana seorang guru tidak dapat sembarangan berperilaku dan berpenampilan. Seorang guru harus dapat memberikan keteladanan perilaku yang baik, berpakaian yang sopan baik itu di sekolah maupun di luar sekolah. Pada dasarnya menjadi seorang guru bagaikan figur publik karena menjadi panutan anak didik dan masyarakat.
Di satu sisi lainnya menjadi seorang guru bukanlah profesi pilihan bagi sebagian besar anak negeri ini, karena secara materi hingga saat ini kehidupan sosial ekonomi guru masih banyak yang di bawah garis kelayakan kalau boleh dikatakan seperti itu. Masih banyak ditemukan guru yang secara materi gaji yang diterima tiap bulannya belum mampu menutupi biaya hidup pokoknya. Sehingga selepas pulang sekolah banyak ditemukan guru yang harus mencari penghasilan tambahan dan hal ini dilakukannya hingga larut malam. Besok pagi saat sang guru belajar bersama anak didiknya harus tetap terlihat semangat, ceria dan tanpa beban apapun termasuk beban hidup ekonominya. Inilah profesi seorang guru yaitu profesi karena panggilan hati, bagaimanakah negeri ini jadinya jika kelak generasinya tidak terpanggil untuk menjadi guru?
Inilah gambaran sekelumit sosok seorang guru, mereka harus menjalankan amanahnya sepenuh hati, mereka memberikan ilmu kepada generasi bangsa ini tanpa pamrih, bahkan merekapun merasa bahwa anak didiknya adalah anak-anak mereka sendiri. Memang tidak dapat dipungkiri masih ada guru yang berperilaku melanggar norma agama dan norma negara, tidak mengindahkan etika seorang guru. Jika ditemukan guru yang seperti itu yakinlah bahwa mereka bekerja bukan dengan hati namun karena terpaksa dan demi penghasilan semata, guru dengan tipikal ini sangatlah sedikit dari sekian juta guru yang berpofesi dengan hati.
Begitu mulia tugas seorang guru, harusnya kita berterima kasih kepada guru karena gurulah yang mendidik kita, mengajarkan tata krama, etika, kesopanan, membimbing kita menjadi manusia yang bermental tangguh dan berakhlak mulia, mengajarkan kita baca – tulis, mengajarkan kita banyak hal. Tapi sudahkah kita seperti itu? Kita kembalikan pada diri kita masing-masing karena kenyataan hingga saat ini justru sebaliknya.
Di media massa atau berita lainnya dewasa ini banyak kita temukan orang tua yang menuntut guru anaknya ke pengadilan karena dianggap telah berbuat kasar kepada anaknya, padahal orang tua itu dulu adalah murid dari guru yang dituntut tersebut. Banyak orang tua yang mengajukan tuntutan hukum kepada guru karena merasa guru telah berbuat kasar kepada anaknya, tetapi tidak banyak oang tua yang dituntut oleh guru bahwa banyak anak mereka yang telah berbuat kasar kepada gurunya. Para orang tua sekarang merasa bahwa mereka sudah memiliki materi sehingga bisa berbuat sesuai kehendak hati dan menganggap guru adalah orang yang lemah secara materi. Banyak orang tua yang lupa bahwa guru tersebutlah yang membentuk karakter anaknya, mengajari disiplin, sopan-santun, bahkan ingin menjadikan anak didiknya menjadi anak yang sukses dan sholih-sholihah. Tidak ada seorang guru yang mengingkan anak didiknya menjadi penjahat, membiarkan anak didiknya berperilaku tidak baik karena guru adalah panggilan hati.
Melihat fenomena seperti ini, masihkah kita memandang sebelah mata kepada guru? Mampukah diri kita menjadi guru? Mampukah diri kita mendidik anak seperti guru? Jika kita merasa tidak mampu maka hanya satu yang dapat kita lakukan yaitu menghormati dan menghargai seorang guru, namun jika kita sudah melakukannya seperti yang dilakukan guru saya yakin kita akan semakin bisa menghormati dan menghargai seorang guru. Bagaimanakah pandangan saudara?
Guru....selamat berjuang untuk generasi negeri ini..............dipundakmulah kemajuan bangsa ini....sungguh mulia jasamu.....SELAMAT HARI GURU.















Rabu, 20 Juli 2016

JADIKAN PENDIDIKAN PENJERNIH IMAN ANAK

JADIKAN PENDIDIKAN PENJERNIH IMAN ANAK
(Heri Murtomo, Pelaku Pendidikan di Surabaya)

Transfer ilmu pengetahuan dalam proses pendidikan merupakan sarana yang paling tepat untuk mengasah qolbu anak tentang ciptaan-Nya

Tumbuh kembang anak bukan hanya dipengaruhi oleh bawaan sejak lahir tapi yang lebih dominan adalah karena pengaruh lingkungan keluarga dan pendidikan yang diperolehnya. Tumbuh kembang anak tidak hanya berbicara mengenai perkembangan fisik dan intelektual saja namun yang lebih penting adalah perkembangan mental spiritual atau yang lebih familiar disebut keimanan anak. Peranan orang tua memiliki pengaruh yang utama dalam perkembangan anak dengan tidak mengesampingkan proses pendidikan.
Dengan adanya perkembangan tekhnologi yang super canggih di era seperti ini seharusnya menjadi hal yang sangat mendukung dalam memupuk perkembangan spiritual anak. Namun kenyataan yang terjadi justru sebaliknya, fenomena perkembangan spiritual anak berada pada titik nadir. Marilah kita amati tentang perilaku anak pada akhir-akhir ini, berbagai peristiwa di media massa menujukkan perilaku anak yang melenceng jauh dari syariat Islam. Anak-anak terjebak dengan kecanggihan tekhnologi untuk digunakan pada hal-hal yang buruk, antara lain game, akses porno, budaya yang dilarang oleh Islam. Pengaksesan informasi tekhnologi yang tidak tepat tersebut secara perlahan telah mengikis keimanan anak di dalam qolbunya. Perilaku anak terhadap penggunaan tekhnologi yang tidak tepat tersebut justru secara tidak langsung telah didukung oleh orang tua. Para orang tua membiarkan dan memberikan waktu yang leluasa kepada anak dengan tanpa pendampingan untuk memanfaatkan tekhnologi. Apakah kita sebagai orang tua telah melakukan kesalahan dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk memanfaatkan tekhnologi? Tentu jawabannya tidak salah, karena jika kita tidak memberikan kesempatan untuk mengakses informasi dengan tekhnologi maka kita akan memenjara perkembangan intelektual anak. Bagaimana seharusnya yang dapat kita lakukan untuk tetap menjaga keimanan anak dengan mengikuti perkembangan tekhnologi agar kemampuan pengetahuannya semakin optimal? Salah satunya adalah dengan pendampingan dan memberikan pemahaman ketauhidan. Harus diakui memang bahwa era seperti ini tidak semua orang tua dapat berada di samping anaknya selama sehari, kebanyakan orang tua memiliki aktivitas di luar rumah. Di sinilah peranan utama pendidikan untuk membentengi mental dan keimanan anak walaupun anak berada pada lingkungan di luar sekolah maupun di luar rumah.
Dalam islam, manusia memperoleh ilmu pengetahuan dari dua sumber penting yaitu sumber ilahi dan sumber insani. Sumber ilahi adalah ilmu pengetahuan yang didatangkan kepada kita secara langsung oleh Allah melalui wahyu, ilham atau mimpi-mimpi yang benar. Sumber insani adalah ilmu pengetahuan yang dipelajari manusia dari pengalamnnya, observasi, penelitian serta usaha memecahkan persoalan melalui trial and error(uji coba).
Mendidik dalam Islam bukanlah sekedar mentransfer ilmu pengetahuan dan informasi, tetapi lebih dari itu, mendidik adalah proses transformasi nilai dan kearifan kepada setiap peserta didik. Transfer nilai membutuhkan keterlibatan seluruh aspek yang ada pada diri peserta didik, disamping melibatkan pengalaman seluurh anggota komunitas, mulia dari sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat (Muhammad Syafii Antonio dalam Ensiklopedi Leadership dan Manajemen Muhammad, 2011).
Dari pendapat di atas nampak jelas bahwa pendidikan bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan justru dengan pendidikan akan semakin menguatkan keimanan anak. Transfer ilmu pengetahuan dalam proses pendidikan merupakan sarana yang paling tepat untuk mengasah qolbu anak tentang ciptaan-Nya. Proses pendidikan agar dapat mengasah dan memupuk ketauhidan anak sudah harus dimulai sejak dini. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dalam Manhaj At-Tarbiyyah An-Nabawiyyah lit-Thifl yang diterjemahkan oleh Salafuddin Abu Sayyid (2003), menyatakan bahwa periode paling ideal bagi pembinaan pendidikan adalah fase kanak-kanak.
Ibnul qayyim dalam kitab Ahkam Al-Maulud mengatakan”di awal waktu ketika anak-anak mulai bisa berbicara, hendaklah mendiktekan kepada mereka kalimat la Ilaha illalLah Muhammad Rasulullah, dan hendaklah sesuatu pertama kali di dengar oleh telinga mereka adalah La Ilaha illalLah dan mentauhid-Nya. Yang tidak kalah penting dan prioritas adalah dengan mengajarkan Al-Qur’an. Imam Suyuthi mengatakan” mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak merupakan salah satu di antara pilar-pilar islam, sehingga mereka bisa tumbuh di atas fitrah. Begitu juga cahaya hikmah akan terlebih dahulu masuk ke dalam hati mereka sebelum dikuasai oleh hawa nafsu dan dinodai kemaksiatan dan kesesatan. Al-Qur’an berpengaruh terhadap jiwa anak, yang akan membuat jiwa anak semaikn jernih, dana kan dapat memecahkan persoalannya, baik persoalan keyakinan dan kesehatannya.
Jika sejak dini anak sudah di ajarkan seperti pada hal-hal di atas maka di kala anak sudah mendapatkan informasi pengetahuan dari luar yang begitu banyak , maka dengan pengetahuan tersebut akan semakin memupuk keimanannya. Bagaimanakah memberikan ilmu pengetahuan yang tidak lepas dari ketauhidan dan justru meningkatkan keimanan pada qolbu anak?
Salah satu cara dalam proses pembelajaran sebelum memberikan materi ajar sebaiknya diberikan cerita kisah atau dongeng. Dalam mendongeng agar cerita yang disampaikan berdampak baik terhadap setiap siswa, maka guru harus memperhatikan hal-hal berikut : Selektif dalam memilih dongeng atau cerita karena bisa juga justru akan merusak pikiran siswa, Cerita harus dapat mencerdaskan jiwa dan akhlak siswa, cerita dapat diambil dari AL-Qur’an, hadits nabi, perjalanan hidup mukmin sejati, para syuhada, dan orang-orang saleh, kisah harus dikaitkan dengan materi pelajaran, kisah harus mengandung pesan, kata-kata yang dipilih harus tepat, baik, dan efektif, dan kisah harus menarik dan penuh liku.
Dalam pembentukan intelektual anak pada proses pendidikan yang harus diberikan adalah menanamkan kecintaan kepada ilmu dan adab-adabnya, tugas hafalan sebagian ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits, memilih guru dan sekolah yang baik, membimbing anak sesuai dengan kecenderungan ilmiah, dan jika memungkinkan perlu adanya perpustakaan di rumah.
Jika proses pendidikan anak dapat diberikan seperti terurai diatas, maka dalam kondisi lingkungan apapun, perkembangan tekhnologi yang super super canggihpun keimanan pada qolbu anak tidak akan terkikis jutsru sebaliknya yaitu semakin meningkatkan keimanan pada anak. Bagaimanakah menurut saudara?










Sabtu, 16 Juli 2016

PELUANG EMAS DI HARI PERTAMA MASUK SEKOLAH




PELUANG EMAS DI HARI PERTAMA MASUK SEKOLAH
Jika kita sebagai orang tua dan pendidik melewatkan hari pertama masuk sekolah di tahun pelajaran baru yang merupakan waktu emas untuk memotivasi anak, maka secara tidak langsung kita telah menyia-nyiakan generasi bangsa ini.

Akhir tahun pelajaran 2015-2016 merupakan akhir tahun pelajaran yang menyenangkan buat para peseta didik mulai dari tingkat SD sampai SMA. Dikatakann menyenangkan karena di akhir tahun pelajaran bersamaan dengan libur awal puasa, libur akhir semester dan libur hari raya iedul fitri. Sehingga selama itu peserta didik hampir satu bulan penuh libur sekolah dalam bahasa pendidikan belajar di rumah namun kenyataan yang terjadi hampir sebagian besar peserta didik melupakan dan melepaskan diri dari kegiatan belajar yang dalam hal ini hubungannya dengan pendidikan mereka di sekolah. Memang ada tugas yang diberikan sekolah kepada peserta didik selama liburan, namun itu bukan menjadi prioritas bagi peserta didik karena mereka merasa bahwa hanya pada saat-saat seperti inilah mereka dapat melepaskan diri dan menggunakan waktu untuk dunianya yaitu dunia bermain. Jika hal ini dibiarkan tanpa adanya perhatian pendidik dan orang tua, maka akan berdampak pada saat proses pendidikan anak ke depannya.
Tahun pelajaran baru merupakan awal masuk sekolah yang sangat menyenangkan buat anak-anak sebagai peserta didik. Mereka merasakan hal yang baru, mulai dari kelas baru karena naik kelas, jenjang pendidikan yang baru karena masuk ke sekolah yang lebih tinggi apalagi didukung dengan perlengkapan sekolah mereka yang juga baru mulai dari tas, seragam, sepatu, buku pelajaran dan lain-lainnya. Keadaan seperti itu yang seharusnya dimiliki dan harus ditumbuhkan pada diri anak, namun keadaan seperti itu akan terjadi sebaliknya jika anak dibiarkan larut dengan libur panjangnya dan dibiarkan masuk sekolah dengan tanpa adanya dukungan dan motivasi.
Jika kita sebagai orang tua dan pendidik melewatkan hari pertama masuk sekolah di tahun pelajaran baru yang merupakan waktu emas untuk memotivasi anak, maka secara tidak langsung kita telah menyia-nyiakan generasi bangsa ini.
Bagaimanakah menggunakan peluang emas tersebut agar anak-anak memiliki motivasi yang lebih tinggi pada proses pendidikan di hari-har berikutnya?
Untuk memberikan motivasi anak pada saat hari pertama masuk sekolah di tahun pelajaran baru harus dilakukan secara bersamaan antara sekolah,pendidik, dan orang tua. Pihak sekolah harus memilki pandangan bahwa peserta didik awal masuk sekolah di hari pertama tahun pelajaran baru bagaikan tamu sekolah yang merupakan tamu kehormatan, mereka bagaikan pejabat penting di negeri ini yang akan mengunjungi sekolah. Maka pihak sekolah harus menyiapkan sarana-prasana sekolah yang memadai, gedung sekolah yang nampak baru dengan pewarnaannya, ruang kelas yang menyenangkan jika dilihat,halaman sekolah yang bersih dan asri. Pada intinya jika anak masuk sekolah maka mereka menjadi nyaman dan kerasan saat pertama kali melihat sekolahnya setelah liburan panjang.
Disamping keadaan sekolah yang menyenangkan begitu juga dengan sambutan guru-guru mereka yang penuh kasih sayang. Di hari pertama masuk sekolah, guru-guru sudah seharusnya datang lebih awal dibanding dengan murid-muridnya. Para guru sudah berjajar di pintu masuk sekolah di saat murid-murid mereka datang ke sekolah, menyambut murid dengan senyum dan memberikan jabat tangan serta kata-kata yang dapat memotivasi mereka saat pembelajaran. Jika para peserta didik disambut guru mereka dengan penuh kasih sayang maka tidak menutup kemungkinan motivasi peserta didik akan semakin besar untuk belajar, mereka merasa bahwa mereka sangat diperhatikan dan dberikan kasih sayang oleh guru mereka.
Namun dua hal di atas akan menjadi sia-sia tanpa arti jika orang tua tidak berperan dalam memotivasi anak. Jika orang tua menganggap bahwa masuk sekolah hari pertama di tahun pelajaran baru adalah hal biasa maka anak-anak begitu juga sebaliknya akan beranggapan bahwa masuk sekolah haripertama di tahun pelajaran baru adalah hal biasa tidak ada hal baru apalagi motivasi baru dan jika dalam perjalanan proses pembelajaran akan menjadikan masalah buat kita sebagai orang tua, maka orang tua harus intropeksi diri bukan menyalahkan anak.
Orang tua seharusnya memberikan motivasi pada saat anak di hari pertama masuk sekolah di tahun pelajaran baru, menyiapkan perlengkapan sekolah di malam hari sebelumnya, menyiapkan seragam sekolah, bahkan ikut mendampingi anak sampai di sekolah. Peran orang tua ini sangat berharga dan penting untuk anak-anak, bahkan kemendikbud memberikan perhatian khusus dalam hal ini. Di dalam surat edarannya tanggal 11 Juli 2016, ditekankan pentingnya orang tua untuk mengantarkan anak sekolah di hari pertama agar terjalin komitmen bersama antara orang tua dan sekolah dalam mengawal pendidikan anak selama setahun.
Partisipasi orang tua dalam pendidikan anak sangatlah penting, karena pendidikananak tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga dilakukan di pusat-pusat pendidikan yang salah satunya dilakukan di lingkungan rumah tangga (Abdurrhaman An-Nahlawi, prinsip-prinsip pendidikan islamdi rumah di sekolah dan di masyarakat).

Sebagai pendidik dan atau orang tua haruskah dilewatkan hari pertama masuk sekolah untuk anak kita, semua bergantung pada diri kita masing-masing. Bagaimanakah menurut saudara?

Rabu, 18 Mei 2016

MERAJUT KEBANGKITAN GENERASI DAN PENDIDIKAN KEKINIAN

Edisi Hari Kebangkitan Nasional

MERAJUT KEBANGKITAN GENERASI
DAN PENDIDIKAN KEKINIAN

Heri Murtomo (Pelaku Pendidikan)

untuk menjadi seorang guru yang dapat membangkitkan generasi bangsa menuju perubahan negara yang adil dan sejahtera haruslah dapat memberikan keteladanan perilaku dalam menyampaikan ilmu maupun dalam kehidupan bermasyarakat, memberikan ilmu sedalam-dalamnya sehingga akan melahirkan generasi yang berwawasan luas, memberikan ilmu ketauhidan agar menjadi generasi yang beriman dan berakhlakul karimah. Jika hal itu dapat dilakukan maka kebangkitan generasi bangsa seabad tahun yang lalu akan terwujud kembali.


Pendidikan kekinian identik dengan pendidikan era globalisasi. Pada masa era globalisasi ini semua aktivitas lini kehidupan dipengaruhi oleh tekhnologi. Perkembangan tekhnologi yang sangat pesat berdampak pada budaya kehidupan manusia. Kegiatan dan perilaku manusia dilengkapi dengan alat yang super canggih, semua aktivitas dapat dilakukan dengan serba cepat, dan dapat menembus ruang dan waktu. Dunia seakan tanpa batas, dunia hanya selebar daun  kelor (Jawa). Begitu juga dengan dunia pendidikan dan proses pembelajaran tidak dapat luput dari pemanfaatan alat tekhnologi. Melihat fenomena kehidupan dan perilaku manusia seperti yang tertulis di atas maka era seperti tersebut sekarang ini disebut dengan era globalisasi. Sztompka (2004: 101-102), mengatakan bahwa globalisasi dapat diartikan sebagai proses yang menghasilkan dunia tunggal. Artinya, masyarakat di seluruh dunia menjadi saling tergantung pada semua aspek kehidupan baik secara budaya, ekonomi, maupun politik, sehingga cakupan saling ketergantungan benar-benar mengglobal. Pengertian globalisasi tersebut tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah dikemukakan Irwan Abdullah (2006: 107). Menurutnya, budaya global ditandai dengan adanya integrasi budaya lokal ke dalam suatu tatanan global. Nilai-nilai kebudayaan luar yang beragam menjadi dasar dalam pembentukan sub-sub kebudayaan yang berdiri sendiri dengan kebebasan-kebebasan ekspresi.
Dari dua pendapat di atas sudah sangat nyata dalam kehidupan di masyarakat kita bahwa perkembangan globalisasi telah membawa pengaruh yang sangat signifikan khususnya dunia pendidikan di tanah air tercinta ini. Memang globalisasi bukan hanya berdampak pada perubahan perilaku positif tapi juga berdampak pada perubahan perilaku negatif. Justru yang terjadi sekarang ini dan yang paling dominan membawa perubahan perilaku adalah dampak negatif dari globalisasi. Di dunia pendidikan nampak dengan jelas perubahan perilaku negatif seorang pelajar. Hampir sebagian pelajar kalau tidak boleh dikatakan semua, sekarang ini sudah berperilaku menyimpang dari agama. Mereka dengan terang-terangan melakukan tindakan yang dilarang oleh agama dan negara, melakukan tindakan perampokan, pembegalan dengan tanpa dosa, sadisme sesama teman, porno aksi, sedangkan para pelajar perempuan banyak yang hamil di luar nikah. Intinya perilaku para pelajar sudah sangat jauh dari karakter seorang muslim, sepertinya mereka sudah tidak lagi meyakini bahwa Allah akan meminta pertanggungjawaban- Nya kelak, dengan kata yang ekstrim harus dikatakan bahwa mereka sudah mengarah kepada tidak percaya kepada hari akhir. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut dan dianggap hal yang wajar karena dampak dari globalisasi maka generasi bangsa ini akan menjadi generasi yang lemah sehingga masa depan bangsa ini akan mengikuti hancurnya generasi negeri ini. Untuk itulah pembenahan generasi harus segera dilakukan agar generasi kita bangkit untuk membenahi negeri ini! Bagaimanakah membangun kebangkitan generasi emas? Pendidikan yang bagaimanakah yang dibutuhkan?
Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah persoalan yang harus segera diselesaikan. Penyelesaian persoalan pendidikan bukanlah menyelesaikan masalah secara linear tetapi persoalan pendidikan adalah persoalan kompleks. Yang paling urgent untuk dibenahi adalah pendidikan karakter yaitu membangun karakter generasi Indonesia yaitu karakter seorang pelajar yang intelek, sopan, patuh pada orang tua, menghargai orang, bersaudara, gotong royong dan menjalankan syariat Islam dengan sebenar-benarnya dan sebaik-baiknya. Dengan karakter seperti terurai di atas maka satu dekade yang akan datang generasi kita adalah generasi kebangkitan emas yang akan membawa negeri tercinta ini seperti yang dikatakan nenek moyang bangsa Indonesia yaitu gemah ripah loh jinawi. Namun harus diakui bahwa kegagalan generasi kita saat ini bukan kesalahan generasinya tapi yang paling bertanggung jawab adalah yang menuntun, mengarahkan, dan membangun generasi. Orang-orang inilah yang harus intropeksi diri. Untuk membangun kebangkitan generasi emas, maka banyak hal yang harus dilakukan oleh steakholders pendidikan.

Guru
Perilaku para pelajar saat ini yang sudah jauh menyimpang dari syariat Islam dan memiliki mental yang lemah, menganggap semua bisa didapat dengan mudah sesuai keinginannya. Perilaku generasi seperti tersebut bukan dikarenakan kesalahan generasinya tapi yang perlu intropeksi adalah pelaku pendidikannya. Dari sini maka yang perlu kita cermati adalah bagaimanakah karakter pendidiknya? Apakah para pelajar sudah diberikan ilmu yang mendalam berkenaan dengan ketauhidan?Apakah seorang guru sudah menjadi uswatunhasanah bagi para muridnya? Apakah proses pendidikan sudah kontekstual? Inilah yang harus intropeksi terlebih dulu sebelum kita mencari kesalahan dari generasi sekarang ini.
Marilah kita tengok sebentar beberapa berita menyangkut perilaku guru yang pernah termuat di media. Sungguh pilu dan memalukan, seorang guru telah berbuat menyimpang dari syariat Islam. Perilaku guru yang menyimpang yang pernah saya baca di media misal, guru menghamili muridnya, guru berselingkuh dengan sesama teman guru, guru mengkonsumsi narkoba bahkan dengan terang-terangan kadang dilakukan di area pendidikan dan pada saat proses guru memberikan ilmu kepada muridnya, Masyaallah, Astagfirullah!
“peranan guru bukan sekedar komunikator nilai, melainkan sekaligus sebagai pelaku dan sumber nilai yang menuntut tanggung jawab dan kemampuan dalam upaya meningkatkan kualitas pembangunan manusia seutuhnya, baik yang bersifat lahiriyah maupun yang bersifat batiniah (fisik dan non fisik). Artinya yang dibangun adalah karakter, watak, pribadi manusia yang memiliki kualitas iman, kualitas kerja, kualitas hidup, kualitas pikiran, perasaan, dan kemauan (Chomaidi, 2005: 3)”. K.H. Hasyim Asyari dalam Adab al-alim wa al-muta’allim, mengatakan bahwa diantara etika pendidik terhadap peserta didik salah satunya adalah berniat mendidik dan menyebarkan ilmu pengetahuan serta menghidupkan syari’at Islam; guru hendaknya memiliki keihlasan dalam mengajar; tunjukkan sikap arif dan tawadhu’ketika memberi bimbingan kepada peserta didik; dan menghormati peserta didik dengan memanggil namanya yang baik.
Jika guru sendiri belum bisa memberikan keteladanan dengan baik, apakah mungkin ilmu yang diberikan akan bisa masuk ke sanubari sang murid dan dapat membangun karakter sang murid? Jadi guru harus kembali ke khitah yaitu menjadi guru yang sejati dan profesional. Sebagai seorang pendidik guru haruslah bisa memberikan keteladanan baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat. Keteladanan seorang guru dapat ditunjukkan dengan cara berbicara, berpakaian, menghargai orang lain, menerima pendapat orang lain, kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, sabar, dll. Guru haruslah orang yang bisa di gugu dan di tiru artinya setiap tutur kata guru harus sesuai dengan perilaku dan perbuatannya. Jadi untuk menjadi seorang guru yang dapat membangkitkan generasi bangsa menuju perubahan negara yang adil dan sejahtera haruslah dapat memberikan keteladanan perilaku dalam menyampaikan ilmu maupun dalam kehidupan bermasyarakat, memberikan ilmu sedalam-dalamnya sehingga akan melahirkan generasi yang berwawasan luas, memberikan ilmu ketauhidan agar menjadi generasi yang beriman dan berakhlakul karimah. Jika hal itu dapat dilakukan maka kebangkitan generasi bangsa seabad tahun yang lalu akan terwujud kembali.

Murid
Sungguh miris dan tidak amsuk akal jika kita melihat perilaku pelajar saat ini. Perilaku yang sudah jauh dari syariat Islam. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut maka generasi bangsa ini akan menjadi generasi yang lemah dan kita tinggal menunggu kehancuran negara ini. Untuk itu pada era yang penuh dengan kecanggihan tekhnologi ini yang paling prioritas untuk dibenahi adalah mental, karakter, dan spiritual generasi.
Apa yang yang diberikan kepada generasi agar menjadi generasi yang berkualitas? Apakah yang harus dibangun pada generasi agar memilki jiwa kebangkitan menuju perubahan masyarakat yang beriman dan berakhlakul karimah?
K.H. Hasyim Asyari dalam Adab al-alim wa al-muta’allim, mengatakan bahwa diantara etika peserta didik kepada pendidik salah satunya adalah belajar sungguh-sungguh dengan menemui pendidik secara langsung, tidak hanya melalui tulisan-tulisannya semata; mengikuti guru, terutama dalam kecerundungan pemikiran; memuliakan guru; memperhatikan hal-hal yang menjadi hak pendidik; bersabar terhadap kekerasan pendidik; berkunjung kepada guru pada tempatnya atau meminta izin terlebih dahulu; menempati posisi duduk dengan rapih dan sopan bila berhadapan dengannya; berbicara dengan halus dan lemah lembut; menghafal dan memperhatikan fatwa hukum, nasihat, kisah, dari para guru; jangan sekali-kali menyela ketika guru belum selesai menjelaskan; menggunakan anggota badan yang kanan bila menyerahkan sesuatu kepada pendidik. Jika peserta didik memiliki sikap dan perilaku seperti yang dijelaskan oleh K.H. Hasyim Asyari maka generasi bangsa akan bangkit menjadi generasi emas yang berkualitas. Bagaimanakah menjadi seorang peserta didik seperti hal tersebut?
Menjadikan generasi memiliki karakter tersebut bukan hanya sekedar memberikan aturan, membacakan reward dan punishment, tetapi dengan memberikan keteladanan. Membangun budaya sekolah yang disiplin, berkarakter sehingga menjadikan generasi yang berkualitas itulah yang segera untuk dilakukan. Bukan hanya sekolah saja yang memiliki peran penting dalam membangun generasi yang berkualitas, namun peran orang tua di rumah tidak bisa diremehkan dan hanya dijadikan secon opini. Untuk itu sinkronisasi antara sekolah dan orang tua harus sejalan. Saat inilah waktu yang tepat untuk melakukan itu sehingga kelak pada satu dekade akan terwujud kebangkitan generasi yaitu generasi Indonesia yang berkualitas.

Orang tua
Keluarga atau orang tua serta saudara adalah lingkungan kecil yang memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter anak selain di sekolah. Ibu, Ayah, Kakak atau saudara lainnya adalah contoh nyata di hadapan anak-anak yang secara tidak langsung ikut mempengaruhi kepribadiannya. Untuk itu pola kehidupan di rumah haruslah selaras dengan kehidupan di sekolah. Jika pembentukan karakter anak di rumah selaras dengan pembentukan karakter di sekolah maka anak akan merasakan bahwa kehidupan di sekolah merupakan bagian dari kehidupan di rumah begitu juga sebaliknya. Apabila pembiasaan seperti ini berlangsung secara kontinu maka kepribadian anak akan terbentuk dengan baik sehingga generasi yang berkualitas akan terwujud. Namun tidak sedikit hubungan sekolah dengan rumah terputus dan yang terjadi adalah lingkungan sekolah bukan bagian dari lingkungan rumah, persepsi ini timbul pada diri anak karena merasakan perbedaan yang terjadi pada dua lingkungan tersebut. Hal yang harus dilakukan oleh orang tua adalah memberikan pembinaan aqidah yaitu mengajarkan ketauhidan, memberikan ketreladanan dalam menjalankan ibadah, mengajarkan adab dalam menghormati orang tua, guru/ulama, orang lain, bersaudara dan bertetangga (Mendidik Anak Bersama Nabi, Salafudin Abu Sayyid, 2003). Jika sejak anak usia balita orang tua sduah membnagun karakter anak menurut syariat Islam, maka generasi yang diidamkan akan terwujud.

Pemerintah
Sebagai penanggung jawab dan pengambil kebijakan dalam pendidikan di Indonesia, maka pihaka pemerintah tidak serta-merta menyerahkan sepenuhnya pembangunan karakter generasi kepada sekolah dan atau masyarakat. Pihak pemerintah diharapkan dapat memberikan support melalui regulasi yang mendukung pembangunan generasi. Regulasi yang bagaimanakah yang dimaksud? Yaitu regulasi yang diperuntukan bagi sekolah dan guru, baik itu pembinaan proses pedagogik maupun konsekuensi tegas jika melakukan pelanggaran yang merusak generasi bangsa, memperbanyak budaya membaca kisah-kisah yang mengndung motivasi dan sebagainya. Sedangkan regulasi untuk orang tua atau masyarakat adalah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat untuk membangun generasi bangsa. Edukasi tersebut dapat dilakukan mulai dari tingkat propinsi, kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan/desa sampai dengan tingkat RW/RT. Edukasi tersebut dapat berupa penyuluhan, sebagaimana pernah dilakukan pada zaman Orde baru untuk menyukseskan gerakan KB (Keluarga Berencana). Gerakan tersebut dapat diadopsi dengan mengubah menjadi gerakan KB (Karakter Bangsa). Untuk melakukan hal ini pemerintah dapat menjalin kerjasama dengan Perguruan Tinggi agar melibatkan mahasiswa untuk terjun di masyarakat.

Jika ketiga komponen di atas dapat melakukan sinkronisasi membangun generasi seperti terurai di atas, insyaallah dalam satu dekade akan terwujud generasi bangsa yang berkarakter dan berkualitas sehingga kebangkitan generasi akan terulang kembali seperti seabad tahun yang lalu. Memang harus diakui semua ini membutuhkan biaya dan tenaga yang tidak sedikit. Sanggupkah negara kita ? Bagaimanakah menurut saudara?