Selasa, 21 Juni 2022

 



AKHIRUSSANNAH: BUILD THE SOLID TEAM

Heri Murtomo (Pendidik di Surabaya).

 

 Membangun tim yang solid dalam suatu organisasi sangat penting, karena dengan tim yang solid akan memudahkan pencapaian tujuan yang ditetapkan secara efektif dan efisien. Begitu juga dengan institusi pendidikan, bahwa untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan oleh sekolah secara efektif dan efisien dibutuhkan Kerjasama yang kompak antar pendidik dan tenaga kependidikan. Hal ini sebagaimana menurut Rahmawati & Supriyanto (2020) dalam penelitiannya yang berjudul bahwa pentingnya kepemimpinan dan Kerjasama tim dalam implementasi manajemen mutu terpadu menjelaskan bahwa kerjasama tim sangat penting karena menunjukkan kualitas pendidikan sebuah Lembaga. Membangun Kerjasama dapat dilakukan dengan berbagai jenis kegiatan. Salah satu bentuk kegiatan membangun Kerjasama adalah melakukan kegiatan secara Bersama-sama secara massal baik di dalam sekolah maupun di luar sekolah.

Di SD Luqman Al Hakim Surabaya kegiatan Kerjasama antar pendidik dan tenaga kependidikan telah menjadi budaya mulai dari kelompok kecil maupun tingkat sekolah baik di dalam maupun di luar sekolah. Kegiatan tersebut mulai dari rapat kerja tim level kelas, rapat kerja sekolah, pembuatan program pembelajaran, melaksanakan kegiatan level kelas, dan melaksanakan kegiatan sekolah. Akhirussannah merupakan kegiatan akhir tahun ajaran dalam rangkaian kegiatan rapat kerja sekolah.

Akhirussannah didahului dengan rapat kerja evaluasi program tahun ajaran berjalan, dilanjutkan dengan rapat kerja tim level kelas yaitu membuat program kelas untuk tahun ajaran yang akan datang, kemudian pleno, dan dilanjutkan dengan kegiatan akhirussannah. Kegiatan ini biasanya dilakukan di luar sekolah dengan tujuan untuk membangun kebersamaan dan kekeluargaan antar pendidik dan tenaga kependidikan.

Untuk tahun 2022 kegiatan akhirussannah di SD Luqman Al Hakim Surabaya yaitu melakukan kegiatan arung jeram di Songa, Probolinggo. Kegiatan ini jika dilihat secara kasat mata hanyalah kegiatan bersenang-senang, namun di balik itu terdapat esensi dari kegiatan tersebut yaitu membangun kebersamaan dan kekeluargaan.

Hal ini sebagaimana menurut Covey (1997) bahwa seorang Kepala Sekolah sebagai pemimpin harus dapat membangun keseimbangan antara kerja, istirahat, dan rekreasi di lingkungan sekolah. Artinya bahwa Kepala Sekolah memfasilitasi kegiatan rekreasi agar tercipta suasana kerja yang kondusif, etos kerja yang tinggi, kebersamaan, dan kekeluargaan sehingga pencapai tujuan lebih efektif dan efisien.

Dari pendapat di atas bahwa Kepala Sekolah memiliki peran penting untuk membangun kebersamaan dan kekeluargaan di lingkungan sekolah. Hal ini sudah dilakukan di SD Luqman Al Hakim Surabaya sehingga suasana kekeluargaan dan kebersamaan telah terwujud dalam segala kegiatan dan aktivitas.

Kegiatan akhirussannah di Songa, Probolingga yang dilakukan SD Luqman Al Hakim Surabaya pada akhir tahun ajaran 2021-2022 memberikan banyak manfaat:

1.    Terbangunnya suasana kekeluargaan dan kebersamaan antar pendidik dan tenaga kependidikan. Kondisi ini dapat dibangun melalui kegiatan secara Bersama-sama dalam nuansa santai dan enjoy. Bentuk nuansa santai dan enjoy adalah melakukan rekreasi berasama-sama. Rekreasi Bersama-sama sesama pendidik dan tenaga kependidikan sangat penting sebagaimana menurut Covey (1997) bahwa seorang Kepala Sekolah sebagai pemimpin harus dapat membangun keseimbangan antara kerja, istirahat, dan rekreasi di lingkungan sekolah. Dengan rekreasi akan memecah kebosanan dan kejenuhan kerja sehingga dapat merefresh pikiran untuk mendapatkan ide-ide inovatif dalam peningkatan mutu pendidikan.

2.    Memberikan motivasi kepada pendidik dan tenaga kependidikan dengan bentuk memfasilitasi rekreasi Bersama antar pendidik dan tenaga kependidikan. Sebagaimana menurut Abdul Gafur (2020) dalam bukunya Kepemimpinan Kepala Sekolah Strategi Meningkatkan Etos Kerja Guru PAI Bahwa motivasi yang diberikan Kepala Sekolah dapat mengubah secara total kinerja pendidik dan tenaga kependidikan sehingga meningkatnya mutu pendidikan.

Salah satu bentuk untuk meningkatkan kualitas kerja adalah dengan memberikan motivasi kepada pendidik dan tenaga kependidikan. Disinilah peran Kepala Sekolah sangat penting dalam memberikan motivasi kepada pendidik dan tenaga kependidikan agar kualitas kerja meningkat sehingga mutu pendidikan meningkat yang berujung pada tingginya tingkat kepercayaan masyarakat kepada sekolah.  

3.    Meningkatnya etos kerja bagi pendidik dan tenaga kependidikan, karena dengan etos kerja yang tinggi akan berdampak pada mutu pendidikan. Bentuk untuk meningkatkan etos kerja salah satunya dengan menciptakan Suasana harmonis dan kekeluarga di lingkungan kerja (Machalli & Hidayat (2016) dalam bukunya The Handbook of Education Management: Teori dan Praktik Pengelolaan Sekolah/Madrasah Di Indonesia)


SD Luqman Al Hakim Surabaya telah melakukannya setiap akhir tahun ajaran sehingga mutu pendidikan di SD Luqman Al Hakim Surabaya sangat baik. Kegiatan seperti ini perlu dilakukan secara kontinu, terencana, dan terprogram pada masa berikutnya sehingga akan berdampak lebih baik pada peningkatan mutu pendidikan dan tingkat kepercayaan masyarakat kepada sekolah.

Rabu, 12 Mei 2021

Mudik Dalam Perspektif Pendidikan

 

Mudik Dalam Perspektif Pendidikan

Heri Murtomo (Pendidik di Surabaya Asal Lamongan).

 

 Mudik identik dengan hari raya iedul fitri yaitu sutau fenomena perilaku seseorang atau kelompok orang untuk pulang ke kampung halaman. Fenomena ini sudah menjadi budaya dan tradisi masyarakat Indonesia yang dilakukan secara masif menjelang hari raya iedul fitri. Pada saat menjelang iedul fitri seluruh instansi memberikan liburan yang cukup panjang kepada karyawannya sedangkan pada hari-hari libur lainnya sangat pendek sehingga liburan panjang tersebut sangat bermanfaat untuk bertemu, berkumpul dengan orang tua, keluarga, kerabat secara bersamaan. Karena banyak orang yang berkeinginan untuk mudik di waktu yang sama yaitu menjelang hari raya iedul fitri sehingga salama mudik banyak terjadi hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain diantaranya meningkatnya arus lalu lintas yang menyebabkan kemacetan parah, meningkatnya kecelakaan lalu lintas. Kasus kejadian tersebut selalu terjadi mewarnai fenomena mudik tahunan itu, namun hal tersebut tidak menyurutkan motivasi orang untuk mudik. Artinya melakukan mudik terdapat motivasi, semangat, dan gairah walaupun sering terjadi kasus-kasus seperti uraian di atas. Adanya kebijakan pemerintah tentang larangan mudik di masa pandemic Covid-19 tidak berlaku efektif, masih banyak kita temui masyarakat untuk melakukan mudik dengan berbagai cara. Ini menunjukkan bahwa mudik suatu hal keharusan. Bagaimanakah mudik ditinjau dari pespektif pendidikan?

 

Membentuk Karakter Sabar, Menghargai, dan Semangat.

Fenomena mudik yang dilakukan setiap tahun menjelang hari raya iedul fitri dan dilalukan secara bersamaan dalam waktu yang sama menjadikan mudik adalah suau hal yang unik dan mengakibakan banyak terjadi kejadian selama perjalanan. Beberapa hal kejadian selama perjalananan mudik yaitu kemacetan yang parah sehingga waktu perjalanan untuk sampai ke tujuan melebihi batas normal. Kemacetan ini terjadi karena dilakukan secara bersamaan dan dalam waktu yang sama. Walaupun dalam perjalanan terjadi kemacetan namun tidak menyurutkan niat untuk tetap mudik. Justru terjadinya kemacetan tersebut dapat memberikan pendidikan karakter kepada anak tentang sabar menghadapi situasi kemacetan tersebut dan tetap istiqomah untuk melanjutkan perjalanan, menghargai orang lain dalam mengendarai kendaraan untuk teratur tidak saling serobot, mendahului, atau mengabaikan pengendara yang lain yang dapat mengakibatkan kecelakaan, dan memiliki semangat tinggi untuk sampai di tempat tujuan untuk berkenjung ke orang tua, saudara, dan kerabat. Selama perjalanan dengan kemacetan anak akan memahami perilaku dan budaya mudik masyarakat. Disamping itu anak akan mendapatkan banyak pengalaman sehingga membangun memorinya untuk semangat dalam meraih tujuan. Disinilah peran penting orang tua untuk memberikan nasehat dan motivasi arti pentingnya perjalanan mudik dengan bebagai kejadian.

 

Membentuk Karakter Memaafkan, Menghormai, dan Mengasihi.

Mudik dilakukan dalam rangka silaturahim dengan orang tua, saudara keluarga, dan kerabat. Bukan berarti silaturahim dengan orang tua hanya dilakukan saat hari raya iedul fitri, namun dapat berkumpul dengan saudara yang sudah terpisah cukup lama dan hanya dapat dilakukan saat libur panjang hari raya iedul fitri. Pada saat liburan iedul fitri ini juga dapat melakukan kunjungan ke kerabat lainnya yang selama ini hampir jarang bertemu, ke tetangga di kampung halaman, dan teman-teman masa kecil. Dengan silturahim tersebut memberikan pendidikan kepada anak tentang saling memaafkan dan hubungan sosial kemasyarakatan, menjalin silaturahim dengan saudara dan kerabat, menunjukan hubungan kekeluargaan dengan saudara dan kerabat karena hampir tidak pernah bertemu. Silaturahim ini memberikan pendidikan kepada anak tentang perilaku meminta maaf kepada yang lebih tua, memaafkan sebaya dan yang lebih kecil. Pada saat berkumpul dengan saudara dan keraba dapat memberikan pendidikan kepada anak tentang perilaku menghormati, sopan-santun, dan tutur kata yang baik dalam berkomunikasi Pembentukan perilaku dengan cara mengimplementasikan ke dalam kehidupan sosial kemasyarakatan akan terbangun kuat dalam dirinya sehingga pada kehidupannya kelak dapat menerapkan secara mandiri.

 

Terlepas dari hal-hal negtaif mengenai mudik yang perlu diambil hikmahnya adalah mudik merupakan sarana untuk membentuk karakter anak. Udah dua kali lebaran ini karena masa pendemi Covid-19 pemerintah telah mengelurakan larangan mudik, mudah-mudah lebaran pada tahun 2021M/1442 H ini merupakan larangan terakhir bagi masyarakat.

 

Selamat Mudik 2021 M/1442 H.

 

Minggu, 02 Mei 2021

 

HARI PENDIDIKAN NASIONAL (2 Mei 2021)

TEROBOSAN ERA 4.0 (MERDEKA BELAJAR: DIGITALISASI SEKOLAH)

Heri Murtomo (Pendidik di Surabaya) 

 

Pak Naddiem telah mencanangkan delapan prioritas merdeka belajar salah satunya adalah digitalisasi sekolah. Merdeka Belajar adalah program pemerintah dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas sehingga akan terbangun peserta didik yang memiliki kompetensi 4C sesuai dengan tuntutan era disrupsi yaitu berpikir kritis/memecahkan masalah, kreatif, memiliki skill berkomunikasi, dan berkolaborasi sehingga memiliki daya saing dalam menghadapi era digital.

Menurut Savitri (2020), Suhartoyo (2020), Siregar (2020), Sherly, dkk (2020) bahwa gagasan Merdeka Belajar disusun oleh Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dalam mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dengan mengutamakan implementasi nilai-nilai karakter supaya daya pikir, kreativitas setiap pelajar berkembang.

Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat maka untuk menyiapkan generasi masa depan yang dapat bersaing dengan perkembangan zaman salah satu program prioritas adalah digitalisasi sekolah.

Disampaikan oleh Pak Nadiem Makarim sebagai mendikbud (Kompas.com, 2021) bahwa digitalisasi sekolah adalah program kemerdekaan bagi murid untuk mendapatkan informasi dan konten yang setara. Digitalisasi adalah kemerdekaan untuk di daerah manapun mendapatkan akses konten-konten kurikulum yang baik, mendapatkan akses ke konten pengajaran, akses pelatihan dan akses kepada data dan juga berbagai macam bantuan melalui digital. Program digitalisasi sekolah terdiri atas empat kegiatan: 1) penguatan platform digital, 2) konten pembelajaran di program TVRI, 3) bahan belajar dan model media pendidikan digital, 4) penyediaan sarana pendidikan (peralatan TIK.

Kebijakan digitalisasi sekolah sangat baik dalam rangka menghadapi era 4.0 ini karena daya saing pemanfaatan teknologi yang begitu ketat, namun yang perlu mendapat perhatian disaat porgram ini dilaksanakan adalah untuk daerah-daerah dengan akses, letak geografis yang masih belum memenuhi syarat untuk pelaksanaan program tersebut. Daerah yang minim sarana, infrastruktur dan jangkauan akses yang sulit, program digitalisasi tidak akan berjalan optimal. Untuk itu daerah dengan kondisi tersebut perlu dipersiapkan SDM, sarana dan infrastruktur yang mendukung pelaksanaan program digitalisasi.

Untuk mendukung program merdeka belajar agar berjalan dengan optimal Pak Nadiem telah membuat kebijakan salah satu prioritas pada tahun 2021 adalah digitalisasi sekolah. Program digitalisasi sekolah melalui empat sistem penguatan yaitu platform digital, delapan layanan terpadu Kemendikbud, Kehumasan dan Media, 345 model bahan ajar dan media pembelajaran digital, dan penyediaan sarana-prasarana perangkat digital untuk 16.844 sekolah di Indonesia.

Dengan terobosan program merdeka belajar yaitu digitalisasi sekolah dan dukungan sarana-prasarana serta pembiayaan yang telah dicanangkan oleh Pak Nadiem, maka ini adalah terobosan program percepatan untuk bersaing dengan bangsa lain dan mempersiapkan generasi yang unggul dan berkualitas di era disrupsi ini.

Memang tidak dapat dipungkiri program tersebut tentunya memiliki kendala dan hambatan baik dari sisi anggaran, SDM, sarana-prasarana, dan daya dukung lainnya. Namun yang perlu kita cermati dan optimis bahwa program tersebut memiliki manfaat yang besar bagi stakeholder pendidikan yaitu guru, peserta didik, dan orang tua. Manfaat tersebut antara lain kemudahan bagi stakeholder pendidikan untuk mengakses konten pembelajaran.

Sebagaimana disampaikan oleh Pak Nadiem program kemerdekaan bagi murid untuk mendapatkan informasi dan konten yang setara. Digitalisasi adalah kemerdekaan untuk di daerah manapun mendapatkan akses konten-konten kurikulum yang baik, mendapatkan akses ke konten pengajaran, akses pelatihan dan akses kepada data dan juga berbagai macam bantuan melalui digital.

Bahwa program digitalisasi sekolah memberikan kemudahan dan akses pembelajaran bagi seluruh anak usia sekolah.

Bagi daerah dengan SDM, sarana, dan onfrastruktur yang belum memadai akan diberikan dukungan agar program tersebut optimal. Dengan hal itu maka seluruh pelosok negeri dapat mengakses dan mendapat kemudahan dalam pembelajaran sehingga melek IT dan tidak trtinggal dengan perkembangan dan persaingan dunia.

Kedepannya generasi Indonesia akan menjadi generasi yang unggul, berkualitas, terampil teknologi, berpikir kritis, kreatif, memiliki skill komunikasi dan kolaborasi dan mampu bersaing dengan negara lain.

 

Ayo kita Sukseskan Merdeka Belajar: Digitalisasi Sekolah

Zamannya Teknologi, Manfaatkan Dengan Daya Guna dan Tepat Guna.

 

Referensi:

Savitri, D. I. (2020). Peran Guru Sd Di Kawasan Perbatasan Pada Era Pembelajaran 5.0 Dan Merdeka Belajar. Seminar Nasional Pendidikan Dasar, 2, 274–279.

 

Sherly, Dharma, E., & Sihombing, H. B. (2020). Merdeka belajar: kajian literatur. Konferensi Nasional Pendidikan I.

 

Siregar, N., Sahirah, R., & Harahap, A. A. (2020). Konsep Kampus Merdeka Belajar di Era Revolusi Industri 4.0. Fitrah: Journal of Islamic Education. Vol. 1. No. 1. Thn. 2020. Hal. 141–157.

 

Suhartoyo, E., Wailissa, S. A., Jalarwati, S., Samsia, S., Wati, S., Qomariah, N., Dayanti, E., Maulani, I., Mukhlish, I., Rizki Azhari, M. H., Muhammad Isa, H., & Maulana Amin, I. (2020). Pembelajaran Kontekstual Dalam Mewujudkan Merdeka Belajar. Jurnal Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (JP2M). Vol. 1 No. 3. Thn. 2020.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 01 Desember 2020

NEW LEARNING ERA NEW NORMAL PANDEMI COVID-19

 

NEW LEARNING ERA NEW NORMAL PANDEMI COVID-19

 

Pemerintah telah mengeluarkan Keputuan Bersama empat menteri tentang pembelajaran tatap muka tahun ajaran 2020-2021 yang dimulai bulan Januari 2021. Selama diberlakukan pembelajaran tatap muka tetap dengan melaksanakan protokol kesehatan, pembelajaaran dilakukan 2-3 hari per-pekan, jam belajar lebih pendek, dan tidak diadakan kegiatan melibatkan kerumunan anak-anak. Pembelajaran tatap muka hanya diperbolehkan jika Pemerintah Daerah memberikan ijin kepada satuan pendidikan, dan harus ada ijin dari orang tua murid. Bagi siswa yang mengikuti pembelajaran dari rumah satuan pendidikan harus memfasilitasi pembelajaran tersebut.

Alasan pemerintah memberlakukan pembelajaran tatap muka adalah adanya kecenderungan putus sekolah, tumbuh kembang anak baik secara kognitif maupun perkembangan karakter akan terkendala, tekanan psikososial dan aksi kekerasana anak banyak terjadi dan tidak terdeteksi oleh guru.

Dari alasan tersebut bahwa ada beberapa hal yang peru dicermati selama pembelajaran daring dan sebagai bahan evalausi proses pendidikan yang akan datang. Pertama bahwa pembelajaran daring selama pandemi Covid-19 tidak sepenuhnya dapat mencapai tujuan pendidikan secara optimal terutama mencerdaskan masyarakat karena kencenderungan anak untuk putus sekolah lebih besar. Kedua bahwa perkembangan kognitif dan karakter anak akan mengalami hambatan. Hal ini perlu disadari bahwa kemajuan teknologi mempermudah mengakses ilmu pengetahuan dan informasi dan pengetahuan, namun mengoptimalkan kognitif dan perkembangan karakter dibutuhkan sentuhan  dan keteladanan dari guru. Ketiga bahwa dalam proses pembelajaran dibutuhkan orang yang profesioanal dalam memberikan pembelajaran. Orang profesional tersebut adalah guru yang memiliki beberapa kompetensi dalam pendidikan dan menjadi guru adalah panggilan hati. Semua orang bisa mentransfer ilmu pengetahuan namun tidak semua orang  bisa menjadi seorang guru.

Dari uraian di atas bahwa pembelajaran tatap muka sangat penting dalam proses pendidikan, kehadiran seorang guru secara langsung dihadapan anak-anak memiliki peranan vital dalam tumbuh kembang anak, dan proses pembelajaran adalah proses guru dan murid berhadapan secara langsung dalam memgkaji ilmu.

Adanya keputusan untuk pembelajaran tatap muka sangat menggembirakan walaupun di satu sisi hal ini masih menjadi dilema karena kekuatiran masyarakat bahwa pandemi Covid-19 ini belum sepenuhnya berkahir dan masih dapat menularkan ke orang lain. Dua hal tersebut yang menjadi tugas guru akan semakin berat karena harus melaksanakan pembelajaran dengan dua model yaitu tatap muka dan secara daring. Guru dituntut harus memfasilitasi pembelajaran daring bagi anak yang tidak diijnkan tatap muka oleh orang tua, dan sekolah tidak boleh melarang hal tersebut. Apa yang harus disiapkan guru dengan diberlakukannya pembelajaran tatap muka dan jika ada orang tua yang tidak mengijinkan anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka?

Dengan diberlakukannya pembelajaran tatap muka oleh pemerintah tahun ajaran 2020-2021 yang dimulai pada bulan Januari 2021 merupakan hal yang menggembirakan bagi guru dan siswa. Namun orang tua juga diberikan kebebasan untuk tidak mengijinkan anaknya untuk mengikuti pembelajaran tatap muka. Dua hal tersebut yaitu disamping memberikan pembelajaran tatap muka secara langsung guru juga harus memberikan pembelajaran daring bagi anak yang tidak mengikuti pembelajaran tatap muka. Kegiatan pembelajaran dengan dua model yang dilakukan secara bersamaan tersebut merupakan hal yang baru lagi bagi guru. Selama ini pembelajaran daring merupakan model pembelajaran yang baru bagi guru karena guru harus dituntut berdapatasi secara cepat untuk melakukan pembelajaran daring yang selama ini belum/tidak pernah dilakukan. Pembelajaran daringpun berlangsung dengan baik selama kurang lebih sembilan bulan sejak Maret 2020 walaupun banyak kendala yang dihadapi.

Pada saat awal guru dituntut melakukan pembelajaran daring, guru harus melakukan adaptasi secara cepat agar proses pembelajaran tetap berlangsung. Selama adaptasi tersebut bukan hal mudah bagi guru karena harus dikolaboarsikan dengan orang tua dan siswa. Guru juga harus membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang tepat dengan kondisi virtual ini. Dikala pembelajaran daring sudah berjalan dengan baik, lagi-lagi guru harus melakukan adaptasi pembelajaran tatap muka dan daring secara bersamaan. Bagaimanakah menyiapkan model pembelajaran tersebut?

Model pembelajaran tatap muka dan daring yang harus dilakukan secara bersamaan akan terjadi dan guru harus memfasilitasi bagi siswa yang tidak mengikuti pembelajaran tatap muka. Dengan model pembelajaran tersebut harus disiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan kondisi siswanya. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran guru harus melakukan pembelajaran tatap muka langsung di kelas yang juga dapat di akses oleh siswa yang mengikuti pembelajaran daring. Model pelaksanaan pembelajaran tersebut tentunya membutuhkan persiapan, model, dan media pembelajaran yang tepat. Disinilah guru dituntut untuk melakukan adaptasi model pembelajaran yang dilakukan tatap muka dan secara daring. Hal ini bukan persoalan mudah karena menyangkut keterampilan IT guru dan belum semua guru memiliki keterampilan IT yang memadai. Pemberian tugas dan model penilaian juga harus disesuaikan dengan kondisi siswa. Guru harus menyiapkan pemberian tugas dengan kondisi tatap muka dan daring atau yang dapat mengadopsi kedua model pembelajaran tersebut. Begitu juga dengan penilaian harus dilalukan penilaian yang dapat mengadopsi kedua model pembelajaran tersebut. Hal-hal tersebut masih bisa disiasati oleh guru dan disesuaikan kondisi siswanya. Namun hal terpenting yang sulit dideteksi adalah kendala psikologis guru dan siswa. Pada pembelajaran tatap muka secara langsung, siswa akan mendapat sentuhan guru secara langsung dalam memahami materi yang diberikan, guru juga dapat optimal dalam menumbuhkembangkan potensi dan karakter anak. Sedangkan bagi siswa yang mengikuti pembelajaran daring hal tersebut mungkin belum didapat secara optimal karena siswa tidak merasakan kehadiran seorang guru dihadapannya. Dalam pembelajaran tatap muka guru dan siswa akan lebih fokus dalam belajar dan hadirnya guru di dekat siswa telah memberi aura energi positif dan motivasi tersendiri. Sedangkan untuk pembelajaran daring hal tersebut tidak akan didapatkannya, walaupun mereka juga melihat hadirnya guru namun tidak secara langsung hanya lewat virtual. Dalam hal hasil belajar bisa terjadi pembelajaran tatap muka secara langsung akan memberikan hasil belajar yang lebih baik daripada pembelajaran daring. Dengan model pembelajaran tatap muka dan daring secara bersamaan belum dapat menjadikan pembelajaran optimal sesuai dengan tujuan pendidikan untuk itu agar guru tidak dituntut berlebihan untuk mencapai tujuan pendidikan dengan kondisi dan situasi seperti ini.

Selasa, 24 November 2020

GURU, MULTI POTENCY YANG TAK TERGANTI

 

GURU, MULTI POTENCY YANG TAK TERGANTI

 Heri Murtomo (Guru di Surabaya)

Adanya pandemi Covid-19 telah merubah tatanan semua lini kehidupan termasuk lini pendidikan. Sejak Maret 2020 adanya pandemi Covid-19 untuk proses pendidikan pemerintah telah memberlakukan belajar dari rumah dengan cara pembelajaran daring. Perubahan proses pembelajaran ini memiliki pengaruh yang luar biasa semua aspek pendidikan. Guru, siswa, dan orang tua murid dituntut untuk beradaptasi dengan perubahan tersebut secara cepat. Guru harus dapat melakukan proses pembelajaran yang tidak biasanya mulai dari perencanaan, pelaksanaaan, dan evaluasi proses pembelajaran. Melakukan inovasi pada unsur-unsur proses pembelajaran tersebut bukan hal yang mudah, dibutuhkan keterampilan teknologi yang baik. Untuk membuat perencanaan proses pembelajaran daring bukan sekedar perencanaan proses pembelajaran tatap muka langsung yang biasa dijalani, namun harus disesuiakan dengan kondisi daring yang terbatas pada interaksi, tatap muka, dan komunikasi. Perencanaan pembelajaran harus mampu mengadopsi situasi tersebut dan menjadikan proses pembelajaran dapat berlangsung dengan aktif dan bermakna. Pada saat pelaksanaan proses pembelajaran dapat terjadi berbeda dengan yang sudah dibuat skenario pembelajarannya. Hal ini banyak faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah kondisi jaringan, perangkat, dan kondisi psikologis siswa. Begitu juga saat evaluasi proses pembelajaran dapat terjadi tidak optimal dan tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Hal-hal di atas adalah beberapa kendala yang dapat terjadi pada saat proses pembelajaran daring.

Pembelajaran daring adalah model pembelajaran yang baru bagi siswa dan belum menjadi budaya pembelajaran sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran daring masih banyak ditemui kendala-kendala, pembelajaran menjadi kurang optimal, dan pembelajaran masih belum bisa menumbuhkan motivasi belajar siswa. Dari beberapa penelitian menyatakan bahwa dalam pembelajaran daring faktor jaringan, perangkat, keterampilan guru pada IT,kondisi siswa, dan pendampingan orang tua dalam belajar sangat berpengaruh. Jaringan dan perangkat yang dimiliki oleh guru dan siswa masih terbatas sehingga pembelajaran daring kurang optimal. Belum lagi masih banyak guru yang belum menguasai atau memiliki keterampilan yang memadai dalam penggunaan IT. Disamping itu kesibukan orang tua dan sudah menjadi frame orang tua bahwa belajar adalah dengan guru sehingga saat pembelajaran daring pendampingan orang tua masih sangat kurang, peran orang tua masih belum optimal.

Dari uraian di atas bahwasannya pembelajaran daring masih belum optimal dilakukan karena masih banyak ditemukan kendala-kendala dan faktor guru, siswa, orang tua yang belum memadai.

Walaupun dengan berbagai kendala dan faktor penghambat pembelajaran daring seperti uraian di atas, namun pada saat pembelajaran daring penyampaian ilmu pengetahuan tidak mengalami masalah karena era digital membuat siswa mudah mengakses ilmu pengetahuan. Guru juga dapat memberikan pembelajaran dengan berbagai metode dengan pembelajaran kontekstual. Hal itu mungkin bisa membuat pembelajaran lebih bermakna bagi siswa karena siswa mengalami, mencari, dan membuat kesimpulan atas ilmu yang dipelajari. Sehingga akan tumbuh siswa yang memiliki crritical thingking, critis, comunication, dan colaboration sesuai dengan tujuan pendidikan di era 4.0 ini. Pembelajaarn daring membuat siswa memiliki waktu yang cukup banyak untuk berinteraksi dengan lingkungannya dan waktu pembelajaran lebih fleksibel. Tapi yang sulit didapat pada proses pembelajaran daring adalah kehadiran sosok seorang guru dihadapan siswa.

Guru adalah seorang pendidik yang memberikan ilmu dan menumbuhkembangkan seluruh potensi siswa baik kognitif, afektif, dan psikomotor. Guru bukan sekedar mengajar namun guru memberikan teladan dan inspirasi bagi siswa. Setiap tindak-tanduk, nasehat, dan perilakunya menjadi teladan bagi siswa. Peran guru sangat penting dalam membentuk moral, akhlak, dan perilaku siswa. Pada saat proses pembelajaran guru melakukan pengajaran yaitu mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa. Di saat era digital ini ilmu pengetahuan mudah diakses oleh siapapun, dapat dipelajari dimanapun, oleh siapapun, dan kapanpun baik secara indivual maupun  kelompok. Namun ada hal yang tidak didapat pada saat mempelajari ilmu pengetahuan dari digital dengan belajar bersama guru di kelas. Pada saat proses penyampaian ilmu pengetahuan seorang guru bukan sekedar berceramah memberikan informasi namun guru merancang pembelajaran yang membangun karakter siswa melalui metode-metode yang sesuai antara lain diskusi, tanya jawab, inquiri, problem solving, project dan lain sebagainya. Metode-metode pembelajaran tersebut membangun karakter, akhlak, dan sikap siswa dalam bersosialisasi dengan  temannya yang berbeda-beda. Sehingga pada diri siswa akan terbentuk sikap jujur, disiplin, tanggung jawab, bekerjasama, dan saling memahami satu dengan lainnya. Kehadiran guru di kelas pada saat proses pembelajaran secara tidak langsung telah memberikan keteladanan bagi siswa. Nasehat guru, sikap guru, tindak-tanduk guru telah mengisi ruang pada hati siswa yang membangun jiwa siswa sehingga menginspirasi siswa untuk bersikap, bertutur kata, dan berperilaku seperti yang yang dicontohkan oleh guru. Interaksi antara guru dan siswa, antara siswa dan siswa dalam proses pembelajaran tatap muka langsung sangat penting perannya karena interaksi tersebut yang bisa saling memberikan motivasi. Interaksi antara guru dengan siswa secara personal pada saata ada siswa yang membutuhkan perhatian khusus memiliki peranan penting dalam membangun jiwa, motivasi, karakter, dan akhlak siswa. Di saat tertentu guru juga dapat menceritakan tentang kisah-kisah yang menumbuhkan motivasi, dan membangun karakter anak. Menceritakan kisah secara tatap muka langsung lebih menyentuh hati siswa karena terjadi kontak mata dan kontak hati antara guru dan siswa secara langsung.

Uraian di atas adalah hal-hal yang didapat pada proses pembelajaran tatap muka secara langsung. Hal-hal tersebut hanya bisa di dapat jika terjadi kontak mata dan kontak hati secara langsung antara guru dan siswa. Walaupun perkembangan teknologi begitu cepat dan ilmu pengetahuan mudah diakses oleh siswa kapanpun  namun hubungan hati antara siswa dan guru yang tidak akan didapat tanpa proses pembelajaran tatap muka secara langsung.

Sepanjang hayat, sepanjang dunia masih bergerak dan perkembangan digital yang melebihi kecepatan berputarnya kecepatan dunia kehadiran sosok guru dihadapan siswa tak akan pernah tergantikan oleh apapun. Guru membawa dan memberikan value kepada siswa, guru mengisi hati siswa, guru menjadi inspirasi siswa, menjadi teladan siswa, dan guru yang menjadikan generasi unggul pada masa-masa yang akan datang.

 

 

Sabtu, 09 Mei 2020

SEGITIGA EMAS PENDIDIKAN


SEGITIGA EMAS PENDIDIKAN
Oleh: Heri Murtomo (Pendidik di Surabaya)

Menyimak pidato Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada hari pendidikan nasional, 2 Mei 2020 dengan tema belajar dari Covid-19 ada hal yang sangat penting dan bermakna yaitu tiga komponen pendidikan. Pidato Mas Menteri yang saya kutip kurang lebih sebagai berikut : untuk pertama kalinya guru-guru melakukan pembelajaran lewat on line dengan tool-tool baru dan menyadari sebenarnya pembelajaran bisa terjadi dimanapun, untuk pertama kalinya orang tua menyadari betapa sulitnya tugas guru, betapa sulitnya tantangan untuk mengajar anak secara efektif, dan menumbuhkan empati kepada guru-guru, serta guru, siswa, orang tua menyadari pendidikan bukan satu hal yang bisa dilakukan di sekolah, tapi pendidikan yang efektif membutuhkan kolaborasi yang efektif dari tiga pihak ini dan tanpa ada kolaborasi itu pendidikan yang efektif tidak mungkin bisa terjadi.
Dari pidato Mas Menteri di atas ada pesan penting yang terkandung yang disampaikan kepada guru dan orang tua untuk pendidikan yang akan datang. Pembelajaran dapat terjadi dimanapun, guru harus dapat mengikuti perkembangan teknologi, orang tua lebih berperan aktif dalam pendampingan belajar anak, adanya kolaborasi dari tiga komponen yaitu guru, siswa, dan orang tua. Kolaborasi tiga komponen pendidikan yaitu guru, ssiwa, dan orang tua itulah yang menjadi ujung tombak keberhasilan proses pendidikan dan tiga komponen inilah segitiga emas pendidikan.
Era sekarang ini adalah era revolusi digital yang dikenal dengan era 4.0 dan istilah lain menyebutnya dengan era disrupsi. Pada era ini terjadi perkembangan digital yang sangat cepat yang telah mengubah pola hidup dan pola pikir dalam segala lini kehidupan dan tidak ketinggalan dengan dunia pendidikan. Adanya perkembangan teknologi yang begitu cepat maka sudah menjadi kewajiban bagi dunia pendidikan untuk mengikuti perkembangan tersebut karena jika tidak maka generasi kita akan terlindas oleh zaman.
Pendidikan merupakan wadah atau institusi yang tersistem yang masih relevan untuk membangun generasi bangsa yang berkualitas. Agar bangsa ini menjadi bangsa yang besar maka ditentukan oleh generasi bangsanya, untuk membangun generasi yang berkualitas maka diperlukan pendidikan yang berkualitas. Untuk membangun pendidikan yang berkualitas dibutuhkan guru yang berkualitas. Dari sinilah bahwa guru memiliki peran yang sangat penting dalam menghadapi perubahan zaman dan menyiapkan SDM yang berkualiats.
Menurut Delipiter Lase (2019) yang menyatakan bahwa perkembangan teknologi yang begitu pesat membutuhkan guru yang dapat mengikuti perkembangan teknologi, beradapatsi dengan era saat ini, dan memiliki keahlian menguasai teknologi.
Dari pendapat tersebut di atas jelas bahwa untuk menghadapi era revolusi digital ini guru harus terus mengikuti perkembangan dan dapat menguasai teknologi sehingga proses pembelajaran dapat menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan era ini.
Sebagaimana pidato Mas Menteri pada hari pendidikaan nasional 2 Mei 2020 dengan tema belajar dari covid-19 yang menyatakan bahwa untuk pertama kalinya guru-guru melakukan pembelajaran lewat on line dengan tool-tool baru dan menyadari sebenarnya pembelajaran bisa terjadi dimanapun, ini artinya bahwa pada era sekarang ini guru harus menyiapkan diri untuk mengahadapi peruabahan zaman sewaktu-waktu jika tidak maka pendidikan di Indonesia akan tergilas oleh zaman. Pembelajaran dapat terjadi dimanapun artinya bahwa dalam proses pembelajaran bukan hanya terjadi di dalam kelas namun di lingkungan yang lebih besar dan pembelajaran bukan hanya tatap muka namun dapat dilakukan secara on line. Untuk menghadapi hal ini guru harus memiliki kompetensi dalam teknologi dan harus selalu mengikuti perkembangan teknologi. Era revolusi digital ini diperlukan pendidikan yang dapat membekali siswa untuk menjadi generasi yang kreatif, inovatif, serta kompetetif sesuai dengan kebutuhan abad 21.
Jika di era revolusi digital ini lembaga pendidikan tidak mampu membangun generasi yang sesuai dengan tuntutan zaman maka lambat laun lembaga pendidikan akan tergantikan dengan model pendidikan homeschooling atau virtual school. Untuk itu dalam lembaga pendidikan perlu disiapkan guru yang profesional era 4.0.
Menurut Syakur (2012) yang menyatakan bahwa untuk menyiapkan guru yang professional era 4.0 maka lembaga pendidikan harus melakukan beberapa langkah yaitu: meningkatkan kualitas guru agar lebih profesional dalam menghadapi tantangan era 4.0 dan menguasai teknologi, serta meningkatkan mutu managemen dan sarana-prasarana. Disamping hal tersebut yang tidak kalah penting dalam peningkatan mutu sekolah adalah menjalin komunikasi yang efektif dengan orang tua murid dengan melakukan kolaboratif dalam proses pembelajaran dan program-program sekolah. Peran orang tua murid sangat penting dalam proses pendidikan.
Pada era 4.0 ini pada lembaga pendidikan dibutuhkan guru yang profesional sesuai dengan tuntutan perkembangan teknologi yang tidak kalah penting adalah dibutuhkan guru yang dapat memberikan teladan dalam membangun karakter yang beradab dalam sikap, moral, religi, kasih sayang, empati dan lain sebagaimana diamanatkan oleh kurikulum 2013.
Untuk membangun karakter siswa dalam proses pembelajaran dibutuhkan kolaboarsi dengan orang tua murid. Pesan yang telah disampaikan oleh Mas Menteri dalam pidato pada hari pendidikan nasional 2 Mei 2020 yang menyatakan bahwa untuk pertama kalinya orang tua menyadari betapa sulitnya tugas guru, betapa sulitnya tantangan untuk mengajar anak secara efektif, dan menumbuhkan empati kepada guru-guru. Artinya bahwa orang tua memiliki peran penitng dalam pendampingan belajar anak. Dengan pendampingan orang tua anak akan menjadi lebih nyaman dan menjadi lebih diperhatikan dalam belajarnya.
Pendampingan orang tua dalam proses pembelajaran maka semakin menumbuhkan keeratan hubungan anak dan orang tua, orang tua akan semakin memahami tumbuh kembang anak, memahami potensi dan kelemahan anak sehingga dapat memberikaan motivasi belajar, meningkatkan prestasi akademik, dan menumbuhkan rasa empati kepada guru-guru karena menyadari sulitnya tugas seorang guru. Menuurt Sri Maslihah (2011) yang menyatakan bahwa dukungan perhatian dan pendampingan orang tua dalam belajar memiliki hubungan yang kuat dengan peningkatan prestasi akademik anak.
Dari hal tersebut bahwa peran orang tua sangat penting dalam membangun karakter dan mengopitmalkan potensi anak. Dari sinilah maka sekolah perlu melakukan kolaboarsi yang efektif dalam proses pembelajaran dan program-program sekolah. Agar kolaborasi tersebut dapat berjalan efektif maka orang tua dilibatkan dalam program-program sekolah, dilibatkan dalam pembelajaran di rumah, melakukan komunikasi secara intens terkait dengan perkembanagn anak. Dengan melibatkan dalam hal tersebut orang tua merasa menjadi bagian dalam pendidikan, memiliki peran dalam proses pembelajaran, memiliki andil dalam suskesnya program sekolah, memiliki kewajiban dalam pembentukan karakter, dan memiliki kewajiban untuk meningkatkan mutu SDM.
Jika peran sekolah dan orang tua sesuai dengan porsinya dan dapat bekerjasama dalam mewujudkan mutu sekolah serta memahami pentingnya perkembangan anak maka akan terwujud generasi yang bermutu sesuai dengan perkembangan era revolusi digital. Di era revolusi digital seperti saat ini, dunia pendidikan dituntut mampu membekali siswa dengan ketrampilan abad 21 (21st Century Skills) meliputi cretivity, critical thingking, communication dan collaboration atau yang dikenal dengan 4Cs. Keterampilan ini adalah ketrampilan siswa yang mampu untuk bisa berfikir kritis dan memecahkan masalah, kreatif dan inovatif serta keterampilan komunikasi dan kolaborasi. Selain itu keterampilan mencari, mengelola dan menyampaikan informasi serta terampil menggunakan informasi dan teknologi. Beberapa kemampuan yang harus dimiliki di di abad 21 ini meliputi  : Leadership, Digital Literacy, Communication, Emotional Intelligence, Entrepreneurship,Global Citizenship , Problem Solving, Team-working. Tiga Isu Pendidikan di indonesia saat ini Pendidikan karakter, pendidikan vokasi, inovasi. (Wibawa, dalam Risdianto, 2019).
Untuk mewujudkan generasi abad 21 dibutuhkan kolaboarsi antara sekolah dan orang tua yang memiliki peran masing-masing dan saling memberikan dukungan. Jika ini tidak dapat diwujudkan maka pendidikan yang terjadi akan keitnggalan dengan era perkembangan teknologi. Segitiga emas pendidikan yaitu sekolah, orang tua, dan siswa adalah poin utama untuk mencapai SDM yang unggul dan beradab, berkarakter baik dan dapat menghadapai tantangan era revolusi digital.

Bagaimana menurut saudara...?

Delipiter Lase. (2019). Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0. JCTES 1(1): 28-43
Eko Risdianto. (2019). Analisis Pendidikan Indonesia Di Era Revolusi Industri 4.0. Researchgate.net.
Mahlail Syakur. (2012). Profesionalisme Guru Dan Globalisasi. Proceeding Seminar NasionalProfesionalisme Guru Dalam Perspektif Global”. Tahun 2012.     
Sri Maslihah. (2011). Studi Tentang Hubungan Dukungan Sosial, Penyesuaian Sosial Di Lingkungan Sekolah Dan Prestasi Akademik Siswa SMPIT Assyfa Boarding School Jawa Barat. Jurnal Psikologi Undip Vol. 10, No.2, Oktober 2011.